DINAS PERTANIAN KABUPATEN ACEH TENGAH " JENDELA INFORMASI PERTANIAN"
MELAYANI PETANI DENGAN SEPENUH HATI

Kreatif! Penyuluh BPP Celala Ciptakan Alat Bantu Tanam Jajar Legowo

Rabu, 05 April 2017 - Oleh FATHAN MUHAMMAD TAUFIQ

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Mensosialisasikan pola tanam jajar legowo kepada petani yang sudah terbiasa menerapkan pola tanam konvensional, tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran dan pendekatan secara terus menrus agar mereka mau menerapkan pola tanam yang direkomendasikan oleh Kementerian Pertanian ini. Padahal dengan penerapan pola tanam jajar legowo ini, produktivitas padi bisa meningkat secara signifikan, karena dengan pola ini jumlah rumpun persatuan luas bisa lebih banyak, demikian juga dengan jumlah anakan tanaman padi, karena jarak tanamnya sudah dia atur sedemikian rupa.
Dengan pola konvensional (jarak tanam sembarang), jumlah populasi/rumpun dalam setiap hektar lahan sawah maksimal hanya sekitar 120 ribu rumpun, sementara dengan pola jajar legowo 2:1, jumlah populasi tanaman padi bisa mencapai 300 – 350 ribu rumpun. Begitu juga dengan intensitas penyinaran matahari, pada pola konvensional, tidak semua rumpun mendapatkan intensitas penyinaran matahari secara optimal, sementara dengan pengaturan jarak tanam melalui pola jajar legowo, semua tanaman mendapatkan porsi penyinaran matahari secara maksimal.


Prinsip pola tanam jajar legowo
Istilah “Legowo” sendiri di ambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti luas/lapang dan “Dowo” yang berarti panjang atau memanjang. Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir..
Berdasarkan pengalaman petani di Pulau Jawa dan hasil penilitian dari Balibang Kementerian Pertanian, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah, karena dengan pola ini, semua tanaman berada pada posisi pinggir dan langsung mendapatkan penyinaran matahari secara maksimal. Karena dengan pola jajar legowo ini, akan ada lorong memanjang yang cukup luas diantara barisan tanaman, sehingga semua tanaman mendapatkan intensitas penyinaran matahari secara maksimal, sehingga pertumbuhan dan produksinya bisa optimal. Sebagaimana diketahui, bahwa tanaman padi dalam masa pertumbuhan maupun fase produksinya, membutuhkan penyinaran matahari yang cukup selama 6 – 8 jam per hari.

Ciptakan alat caplak jajar legowo.
Sulitnya mengajak petani untuk menerapkan pola tanam jajar legowo, salah satunya karena petani tidak mau direpotkan dengan pengaturan jarak tanam yang menurut mereka menyita waktu dan tenaga. Karena untuk bisa menanam dengan pola jajar legowo ini, mereka harus menggaris lurus lahan sawah atau membentangkan tali untuk mengukur jarak tanam. Ini yang menurut sebagian petani tidak praktis dan membuang tenaga, sementara dengan pola tanam konvensinal, petani tidak perlu repot-repot menggaris tau membentangkan tali.
Melihat keengganan petani untuk menerapkan pola tanam jajar legowo ini, para penyuluh pertanian yang ada di BPP Celala mencoba membuat alat bantu yang bisa memudahkan petani menanam dengan pola jajar legowo ini. Berbekal referensi dari beberapa media pertanian, para penyuluh dibawah koordinasi Kepala BPP Celala, Sudarmi, SP ini mulai merancang alat sederhana yang bisa memabantu petani menanam dengan pola jajar legowo secara mudah dan cepat. Alat yang kemudian disebut “alat caplak” atau alat penjiplak pola jajar legowo.
Rancangan alat ini juga cukup sederhana, sebatang besi yang dipasang melintang dan diberi gagang/pegangan (mirip dengan “serde”) kemudian diberikan 4 roda besi tipis dan jari-jari besi dengan jarak tertentu (lihat gambar). Cara mengoperasikan alat ini juga cukup mudah, cukup mendorong lurus alat ini di pata-petak sawah yang sudah siap tanam, kemudian bekas rodan dan jari-jari besi ini akan meninggalkan garis lurus yang kemudian dijadikan acuan/mal untuk barisan tanaman. Dengan menggunakan alat ini, petani tidak perlu lagi menggaris dengan tongkat kayu atau merentangkan tali lagi, karena tinggal mendorong alat caplak ini, kemudian tinggal mengikutinya dengan menanam padi mengikuti garis lurus yang ditinggalkan oleh alat ini..
Alat ini sengaja dibuat sesederhana mungkin agar petani juga bisa membuat alat ini sendiri, biaya atau modal pembuatan alat ini juga tidak mahal, sehingga terjangkau oleh petani dan dapat digunakan dalam waktu relative lama, asal dirawat dengan baik.
Dan ternyata, kreativitas yang ditunjukkan oleh Sudarmi dan kawan-kawan tidak sia-sia, karena setelah alat ini diperkenalkan kepada petani di wilayah kerja mereka, para petani pun mulai anusias untuk menerapkan pola tanam jajar legowo ini. Kecamatan Celala, memang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Tengah yang memiliki potensi lahan sawah yang cukup luas yaitu sekitar 700 hektar, jika pola tanam jajar legowo ini bisa diterapkan di semua lahan sawah yang ada, bisa diprediksi akan terjadi peningkatan produksi yang cukup signifikan di daerah ini. Apalagi wilayah ini juga termasuk wilayah pengembangan program Upsus padi, jadi apa yang dilakukan oleh para penyuluh disini sangat relevan dengan program peningkatan swasembada pangan tersebut.
Sedikit sentuhan kreativitas para penyuluh di BPP Celala ini, ternyata berdampak sangat positif, para petani yang semula enggan menerapkan pola tanam jajar legowo, kini mulai antusias untuk menerapkkannya. Karena dengan menggunakan alat sederhana ini, ternyata menanam dengan pola jajar legowo menjadi lebih mudah, cepat dan praktis. Sebuah kreativitas yang perlu mendapatkan apresiasi.