DINAS PERTANIAN KABUPATEN ACEH TENGAH " JENDELA INFORMASI PERTANIAN"
MELAYANI PETANI DENGAN SEPENUH HATI

Mengintip Kreativitas Penyuluh Pertanian Di Gayo

Kategori : Sosok
Senin, 10 April 2017 - Oleh FATHAN MUHAMMAD TAUFIQ

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq *)

 

Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, selain memiliki potensi pertanian yang luar biasa seperti Kopi Arabika, Jeruk Keprok, Alpukad, Kentang, Cabe, Tomat, Kol dan sebagainya, ternyata juga “kaya” potensi sumberdaya manusia di bidang penyuluhan pertanian. Para penyuluh pertanian di Gayo ini, selain menjalankan tugas mereka sebagai pendamping dan pembina petani untuk mencapai keberhasilan dalam usaha tani, beberapa diantara mereka juga memiliki kreativitas yang sangat bermanfaat bagi pembangunan pertanian di daerah ini.
Keterbatasan fasilitas yang dimiliki para penyuluh, ternyata tidak lantas membatasi kreativitas dan inovasi mereka. Dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada, mereka mampu menciptakan temuan baru yang sangat bermanfaat bagi petani. Ada beberapa orang penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Tengah yang menurut penuluran penulis, memiliki kreativitas “lebih” dibandingkan dengan penyuluh lainnya, mereka telah menunjukkan daya kreasi mereka untuk mengsailkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka sendiri maupun bagi petani binaan mereka. Berikut beberapa penyuluh yang penulis anggap memiliki kreativitas luar biasa;


1. LEGIMIN, pencipta alat Caplak Jajar Legowo dan alat penyiang padi “Landak”.


Penyuluh pertanian kotrak atau THL-TBPP kelahiran Takengon, 20 Agustus 1979 ini sudah menekuni profesi sejak tahun 2009 yang lalu, dan sejak diangkat ebagai penyuluh kontrak, di ditempatkan di wilayah kecamatan Celala, salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Tengah yang memiliki potensi lahan sawah cukup luas. Otomatis, selama menjalankan tugasnya, dia lebih fokus untuk membina petani padi di wilayah kerjanya tersebut, meski demikian petani kopi dan petani hortikultura yang ada di sana juga tidak luput dari pembinaannya.
Program percebatan swasembada pangan melalui Upaya Khusus peningkatan produksi padi, jagung dan kedele (Upsus Pajale) yang mulai dilaksanakan pada awal tahun 2015 yang lalu, akhirnya melibatkan Legimin untuk lebih intensif membina petani agar mereka dapat meningkatkan produktivitas padi mereka. Salah satu upaya meningkatkan produktivitsa padi tersebut adalah melalui penerapan pola tanam jajar legowo. Namun tidak mudah bagi Legimin mengajak petani untuk menerapkan pola tanam jajar legowo ini, karena menurut para petani, pola tanam ini cukup ribet dan menyita waktu serta tenaga pada saat penanaman, karena mereka sudah terbiasa dengan pola tanam konvensional. Itu yang membuat Legimin berfikir bagaimana agar petani dapat melaksanakan pola tanam jajar legowo ini secara mudah, cepat dan praktis. Garis lurus sebagai acuan jajaran tanaman padi, sering menjadi keluhan petani, karena sebelum menanam, petani harus menggaris atau membentangkan tali terlebih dahulu, dan ini menurut mereka sangat menyita waktu dan tenaga.
Menjawab keluhan petani tersebut, dia mulai berfikir untuk membuat alat yang bisa membantu memudahkan petani dalam menerapkan pola tanam jajar legowo ini, sampai akhirnya dia bisa membuat alat caplak jajar legowo yang ternyata sangat bermanfaat Dari rancangan sederhana yang dia buat, jadilah sebuah alat yang kemudian dikenal sebagai alat caplak jajar legowo. Dengan alat ini, petani tidak perlu lagi repot-repot menggarias atau membentangkan tali untuk meluruskan barisan tanaman padi, tapi cukup mendorong lurus alat ini dan mengikuti garis yang ditinggalkan oleh alat ini untuk menanam padi.
Tak hanya “menciptakan” alat caplak jajar legowo, Legimin juga membuat alat lain yang bisa memudahkan petani untuk mengendalikan gulma di lahan sawah, karena penanggulangan gulma juga sering menjadi kendala bagi petani. Penyiangan gulma secara manual, banyak menyita waktu, tenaga bahkan biaya, dan ini dapat membebani biaya produksi yang harus dikeluarkan petani. Itu yang akhirnya menjadi pertimbangan Legimin untuk memodifikasi alat sederhana yang bisa membantu petani untuk melakukan penyiangan gulma secara cepat dan praktis. Alat yang dinamai “landak” ini, berupa roda kayu atau besi yang seluruh permukaannya dipasang paku besar, mirip dengan bulu Landak, kemudian diberi gagang untuk memudahkan pengoperasiannya. Alat tersebut kemudian digunakan pada lorong-lorong di sawah yang ditanami padi dengan pola jajar legowo, gulma yang ada akan tersangku pada paku-paku tersebut dan petani tinggal membuangnya. Aadnya lorong-lorong memanjang dan lurus pada pola tanam jajar legowo, memudahkan untuk pengoperasian alat ini, sementara untuk pola konvensional, alat ini agak sulit digunakan, karena pada pola konvensional, garis tanam tidak lurus dan tidak beraturan.
Sederhana memang, dua alat yang “diciptakan” oleh Legimin dibantua oleh teman-teman penyuluh lainnya ini, tapi manfaatnya begitu besar, karena langsung menunjang program upsus peningkatan produksi padi. Antusias petani untuk menerapka pola tanam jajar legowo setelah adanya alat ini, akan menjadi pemicu peningkatan produktivitas padi, khususnya di kecamatan Celala. Meski masih berstatus penyuluh kontrak, semangat dan kreatifitas penyuluh yang satu ini pantas diacungi jempol.


2. SUYITO, SP, penemu alat pelubang mulsa praktis.


Dia merupakan salah seorang penyuluh senior yang ada di kabupaten Aceh Tengah, sudah bertugas sebagai penyuluh pertanian sejak tahun 1980an, Suyito memang sudah kenyang makan asam garam di bidang penyuluhan pertanian. Peraih Satya Lencana dari Presiden RI pada tahun 2015 yang lalu itu sudah tidak asing lagi bagi para petani di saentero kabupaten Aceh Tengah. Hampir semua daerah di kabupaten ini pernah menjadi wilayah binaanya, dan berbagai ilmu serta pengalaman di bidang pertanian yang dimilikinya sudah tidak diragukan lagi. Bhkan dalam kapasitasnya sebagai Faslitator Daerah, dia sudah sering diundang oleh kabupaten-kabupaten lain di Aceh untuk memberikan penyuluhan dan motivasi kepada para petani di daerah tersebut. .
Saat ini penyuluh kelahiran Paya Tumpi, Aceh Tengah 11 Desember 1963 ini dipercaya sebagai Kepala BPP Lut Tawar yang wilayah kerjanya meliputi seluruh kecamatan Lut Tawar yang berada di pinggiran Danau Laut Tawar. Sesuai dengan potensinya, wilayah ini merupakan areal pengembangan hortikultura khususnya cabe, bawang merah dan tomat, selain komoditi padi. Sistim usaha tani cabe dan bawang merah yang dilakukan petani di kecamatan Lut Tawar dan juga daerah lain di kabupaten Aceh Tengah adalah penanaman dengan menggunakan mulsa plastic sebagai penutup lahan. Ini dilakukan untuk menekan pertumbuhan gulma pengganggu tanaman yang pertumbuhannya sangat cepat dan penanggulangannya cukup sulit. Dengan menggunakan mulsa plastik, pertumbuhan tanaman cabe maupun bawang merahb isa optimal, karena tidak terganggu oleh berbagai gulma.
Sistim penanaman menggunakan mulsa ini memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, karena setelah tanah di olah dan diberikan pupuk lalu dibuat guludan atau bedengan, kemudian bedengan tersebut ditutup dengan plastic mulsa. Pada saat akan dilakukan penanaman, dibuatlah lubang tanam dengan melubangi plastik mulsa tersebut. Alat yang digunakan oleh petani biasanya adalah kaleng bekas susu cair yang diisi dengan arang yang di bakar. Kaleng panas tersebut kemudian akan membentuk bulatan-bulatan pada mulsa dengan diameter sekitar 10 cm. Tapi cara ini kurang praktis dan membutuhkan banyak waktu dan tenaga.
Dari situlah kemudian timbul ide Suyito untuk membuat alat pelubang mulsa yang lebih praktis. Bersama penyuluh lainnya, Kaslil dan Salman, dia kemudian menciptakan alat sederhana untuk membuat lubang pada mulsa secara cepat dan mudah. Mengunakan potongan pipa besi dengan ukuran hampir sama dengan diameter kaleng susu, alat buatan Suyito ini dapat digunakan tanpa harus dipanaskan dengan api, karena bagian bawah alat ini sudah dibuat tajam sehingga langsung bisa memotong atau melubangi plastik sesuai ukran yang diinginkan. Dengan alat ini, hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk membuat lubang tanam diasa mulsa tresebut, sementara dengan menggunakan alat manual sebelumnya, bisa memakan waktu berjam-jam.
Sebuah inovasi sederhana mungkin, tapi apa yang sudah dilakukan Suyito dan kawan-kawan, sangatlah bermanfaat bagi petani cabe dan bawang. Mereka bisa menghemat tenaga dan waktu untuk membuat lubang tanam diatas mulsa, dan tentunya dengan alat ini betani bisa menghemat biaya produksi karena menghemat tenaga kerja.


3. ANUGRAH FITRADI, S Pt, pembuat meriam pipa pengusir hama babi.


Penyuluh yang satu ini tergolong gesit, meski latar belakang pendidikannya dalah sarjana peternakan, namun semua sub sector pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan sudah sangat dikuasainya berkat kemauan kerasnya untuk menimba ilmu dan pengalaman dari para seniornya.
Bertugas di wilayah BPP Jagong Jeget yang wilayahnya banyak berbatasan dengan kawasan hutan, Anugrah sering menerima keluhan dari petani binaanya tentang seringnya terjadi serangan hama babi hutan yang menyerang dan merusak tanaman petani. Berbagai upaya untuk menggulangi hama ini sudah dilakukan seperti memasang jerat, memasang racun atau melakukan perburuan secara berkala, namun hama ini masih tetap menjadi “momok” bagi petani, terutama yang memiliki lahan pertanian di dekat kawasan hutan.
Sebagai penyuluh cerdas yang suka mencari berbagai referensi dari media, Anugrah pun ikut memutar otak untuk mengatasi kendala hama yang sering dikeluhkan oleh petani. Belajar dari pengalaman petani dalam mengusir babi hutan, dia jadi tau bahwa babi hutan sangat takut dengan bunyi-bunyian, apalagi yang sifatnya mengejutkan seperti petasan atau letusan senjata api. Menyarankan petani untuk menggunakan petasan, tentu bukan tindakan bijak, karena mengandung resiko yang mebahayakan petani, mengunakan senjata api juga sesuatu yang tidak mungkin.
Tekad yang kuat untuk membantu petani mengatasi permasalahan mereka, membuat Anugrah mulai merancang alat yang bisa digunakan untuk mengusir hama babi hutan. Berbekal potongan-potongan pipa paralon, dia mulai merancang “meriam pipa”, untuk “amunisi”nya, dia menggunakan botol atau kaleng bekas cat semprot atau spray yang bisa meledak kalau dipanaskan, sementasa untuk pemantiknya,, dia gunakan magnit yang diambil dari korek api gas bekas. Meski bisa menimbulkan suara ledakan yang cukup keras, tapi meriam ini tidak mebahayakan bagi petani karena tidak akan meledak seperti mercon. Efek suara keras dari meriam pipa inilah yang kemudian dijadikannya untuk menakut-nakuti babi hutan yang masuk ke lahan petani. Setelah dia plikasikan di beberpa kebun petani, ternyata alat ini cukup efektif mengurangi serangan hama babi.
Penyuluh yang satu ini memang termasuk salah seorang dari sedikit penyuluh yang rajin mengakses media, itulah sebabnya banyak informasi actual yang diketahui oleh penyuluh ini. Yang membuat penyuluh ini agak istimewa, dia juga punya kemampuan menulis, beberapa tulisannya terkait dengan aktifitasnya sebagai penyuluh, pernah dimuat di beberapa media online. Dan meriam pipa buatannya, merupakan salah satu karya inovasinya yang sangat bermanfaat bagi petani, meskipun untuk diaplikasikan secara luas, masih butuh beberapa penyempurnaan, tapi setidaknya dia sudah mampu mebuat terobosan baru yang bisa menjadi solusi bagi petani dalam mengatasi masalah hama yang selama ini mereka hadapi.


4. SAPRIN ZAILANI, SP, pembuat dan aplikator pupuk organik.


Penyuluh yang satu ini sangat paham bahwa dunia pertanian itu bergerak secara dinamis mengikuti perkembangan teknologi dan juga tren pasar, karena sistim pertanian modern memamng mangacu kepada pasar (agribisnis). Itulah sebabnya dia berpendapat bahwa penyuluh tidak boleh statis, tapi terus mengembangkan potensi diri serta meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dengan berbagai cara. Belajar dari pengalaman orang lain, membaca berbagai referensi serta mengikuti berbagai diklat adalah cara terbaik untuk meningkatkan kapasitas seorag penyuluh, begitu kira-kira prinsipnya.
Penyuluh yang masih tergolong muda ini sudah sarat dengan berbagai ilmu dan pengalaman. Pengalamannya berkunjung ke beberapa daerah di luar Aceh, dia jadkan sebagai bekal untuk membina petani di wilayah binaanya. Terobosan-terobosan baru sering dia lakukan demi untuk meningkatkan pengetahuan petani guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Tren pasar yang menghendaki produk-produk pertanian organik, menjadi salah satu fokus baginya dalam melakukan pembinaan kepada petani. Dalam melakukan aktifitas penyuluhan, penyuluh yang juga Kepala BPP Linge ini selalu menekankan agar petani menggunakan material-material organik dalam usaha tani mereka, karena produk-produk organik inilah yang akan mampu bersaing di pasar, apalagi dalam iklim perdagangan bebas seperti sekarang ini, sehingga semua produk yang dihasilkan petani tidak mengalami kendala pemasaran.
Tak hanya menyarankan, tapi Saprin juga mampu meberikan contoh bagaimana bertani organik, demplot percobaan yang dia buat bersama para penyuluh di BPP Linge, semuanya menggunakan pola organic, baik untuk pupuk maupun pestisidanya. Dan yang membuatnya berbeda, dia mampu membuat pupuk dan pestisida organic sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar lahan petani. Berbekal referensi tentang berbagai unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dia sudah mampu membuat pupuk organik baik padat maupun cair sendiri dengan komposisi hara lengkap, sehingga tidak membutuhkan tambahan pupuk buatan lagi.
Kemampuan membuat pupuk organik ini yang akhirnya dia tularkan kepada petani dan kelompok tani binaannya. Harga yang murah serta proses pembuatan yang tidak sulit, menjadi pertimbangan bagi Safrin untuk terus mensosialisasikan temuannya ini kepada petani, karena dengan menkan biaya produksi, tentu saja profit margin yang akan diterima petani akan lebih besar, dan ini akan menjadi salah satu cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Tak pernah berharap apresiasi atau penghargaan, penyuluh kelahiran Kebayakan, Aceh Tengah 38 tahun yang lalu ini, terus menunjukkan kiprahnya sebagai penyuluh yang kehadirannya selalu ditunggu dan keberadaaanya selalu dibutuhkan petani.


5. Edi Wahyuni, “menyulap” limbah buah-buahan menjadi pupuk organik cair.


Berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya sisa-sisa buah dan buah-buahan yang sudah tidak terpakai menumpuk di sudut Pasar Paya Ilang, salah satu pasar sayur dan buah terbesar di kota dingin Takengon, muncullah ide untuk memanfaatkan buah-buahan “kadaluarsa” tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat. Edi yang berperawakan tegap itu pun dengan sigap mengangkat dan mengumpulkan limbah buah-buahan yang terdiri dari buah nenas, jeruk, semangka, jambu, mangga, papaya dan sebagainya lalu dibawa ke rumahnya. Dia pun mulai mencari referensi tentang kandungan zat yang terdapat dalam buah-buahan tersebut, dan akhirnya dia mendapatkan referensi bahwa sari dari buah-buahan tersebut mengandung enzim yang berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh pada tanaman.
Tanpa ragu, sang penyuluh pertanian yang sehari-hari bertugas di BPP Kute Panag itupun mulai “memproses” limbah buah-buahan itu menjadi semacam pupuk organik yang berbentuk cair, karena memang buah-buahan tersebut mengandung banyak air, jadi agak sulit jika dibuat menjadi pupuk padat. Dengan peralatan seadanya, Edi mulai menghancurkan buah-buahan itu menjadi “bubur buah”, kemudian di saring dan di ambil sarinya. Untuk merubah cairan itu menjadi pupuk butuh proses fermentasi selama 12 – 15 hari dan sebagai stimulator dan activator agar enzim yang diharapkan cepat terbentuk, Edi menambahkan gula merah pada larutan buah itu dan untuk mempercepat proses fermentasi, dia juga menambahkan air kelapa, menurut referensi yang dia dapatkan bahwa penambahan air kelapa pada cairan buah-buahan tersebut mempercepat terbentuknya hormon sitokinin, auksin dan giberalin yang memiliki fungsi merangsang pertumbuhan akar, batang, daun dan buah pada tanaman, sementara untuk menghambat tumbuhnya bakteri yang merugikan, dia menambahkan air cucian beras.
Sekelumit kisah kreatif dari seorang penyuluh pertanian yang terus berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan limbah yang selama ini tidak pernah dilirik oleh siapapun yang kemudian saya angkat melalui media online lokal dan blog Kompasiana, akhirnya menarik perhatian produser acara Liputan 6 SCTV Jakarta. Setelah meminta izin kepada saya selaku penulis, akhirnya pihak SCTV mengirimkan krunya untuk melakukan syutting tentang aktivitas Edi Wahyuni yang telah berhasil “menyulap” tumpukan buah-buahan busuk yang selama ini terbuang percuma di pasar itu ternyata menjadi pupuk organik cair murah yang ternyata sangat bermanfaat untuk membantu para petani itu. Setelah melalui proses syuting selama dua hari degan mengambil lokasi di beberapa tempat di Takengon, dan saya selaku penulis juga terlabat aktif dalam pengambilan gambar tersebut, akhirnya sosok penyuluh THL-TBPP ini muncul dalam tayangan “Sosok Minggu Ini” dalam program Liputan 6 Siang yang ditayangkan oleh stasiun televise nasional SCTV pada hari Minggu tanggal 18 Oktober 2015 yang lalu. Setelah sosoknya tampil dalam tayangan broadcast berskala nasional itu, pupuk organic cair “karya” Edi semakin dikenal masyarakat, apalagi setelah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon melakukan penelitian terhadap pupuk cair ini, kemudian merekomendasikan bahwa pupuk hasil temuan Edi ini mengandung Mikro Organisme Lokal (MOL) yang mampu merangsang pembentukan unsur hara pada tanah yang tentu saja sangat bermanfaat bagi tanaman. Selain memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan, apa yang dilakukan oleh penyuluh pertanian energik ini ternyata secara tidak langsung juga telah “menyelamatkan” lingkungan dari tumpukan sampah buah yang baunya sangat mengganggu itu, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitu kira-kira falsafahnya Edi Wahyuni, sebuah kreatifitas yang patut diberikan apresiasi oleh semua pihak. Kraetivitas yang telah ditunjukkan Edi tidak hanya membanggakan diri dan keluarganya nya, tapi juga menjadi kebanggaan bagi rekan-rekan penyuluh lainnya di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah. Sebuah kreativitas luar iasa yang lahir dari seorang penyuluh kontrak yang meski memiliki keterbatasan fasilitas, namun mampu menggali potensi diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, sebuah keteladanan yang pantas dicontoh oleh para penyuluh pertanian lainnya.


Masih banyak penyuluh-penyuluh lain di Dataran Tinggi Gayo yang memiliki kraetifitas “lebih” dan layak diangkat ke media, Insya Allah dalam ksempatan yang akan datang, penulis akan kembali mengangkat sosok-sosok penyuluh kreatif lainnya. Bukan untuk menggurui, tapi sekedar membari motivasi dan inspirasi bagi pembaca.


*) Penulis adalah Kasi Metoda dan Informasi Penyuluhan Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, penulis dan kontributor artikel/berita pertanian di berbagai media cetak dan media online dan pengelola website Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah..