Distan Aceh Tengah Gelar Sekolah Lapang Tebu di Kecamatan Ketol

Kategori : Perkebunan Senin, 17 April 2017

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq


Kecamatan Ketol merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Tengah yang memiliki potensi lahan pengembangan komoditi Tebu paling luas. Menurut data pada Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Aceh Tengah, saat ini luas areal perkebunan tebu di kecamatan ini mencapai lebih dari 7.000 hektar dan tersebar hampir disemua desa/kampung yang ada di wilayah kecamatan Ketol. Komoditi tebu sendiri sudah puluhan tahun dikembangkan di kecamatan Ketol, bahkan pada tahun 1985 yang lalu di kecamatan ini pernah dibangun Pabrik Gula Mini yang diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto. Namun dalam perjalanannya, pabrik gula tidak bisa berjalan dengan baik dan akhirnya saat ini pabrik gula ini hanya jadi kenangan.
Namun “mati”nya pabrik gula mini di kecamatan Ketol ini, justru memicu tumbuhnya puluhan bahkan ratusan usaha pengolahan gula merah/gula tebu yang dikelola oleh masyarakat setempat. Sampai saat ini, kecamatan Ketol masih mampu mempertahankan predikat sebagai sentra produksi tebu dan gula merah di Kabupaten Aceh Tengah. Tebu dan gula merah asal kecamatan ini bahkan sudah lama mengisi kebutuhan gula merah pasar-pasar di kota besar seperti Banda Aceh, Langsa dan Medan.
Dari tahun ke tahun, perkembangan luas areal pertanaman tebu di wilayah kecamatan Ketol, terus mengalami peningkatan, seiring dengan membaiknya harga komoditi ini, baik dalam bentuk bahan baku (batang tebu segar) maupun dalam bentuk olahan (gula merah). Harga rata-rata batang tebu segar saat ini mencapai 3 - 4 ribu rupiah per batang, sementara untuk gula merah, antara 15 – 18 ribu rupiah per kilogramnya. Tentu ini menjadi peluang untuk mendongkrak kesejahteraan petani tebu, karena dari budidaya tebu ini, setiap hektarnya mampu menghasilkan pendapatan anatara 50 – 60 juta rupiah per tahun.


Upaya pembinaan petani melalui Sekolah Lapang


Seiring dengan antusias para petani untuk mengembangkan komoditi tebu di wilayah kecamatan ini, Dinas Pertanian Kabupaten Aceh yang juga membawahi Bidang Perkebunan, terus melakukan pembinaan secara berkesinambungan. Begitu juga dengan para penyuluh yang bertugas di Balai Penyuluhan Peranian (BPP) Ketol sebagai pusat pelayanan penyuluhan pertanian di wilayah kecamatan Ketol, juga terus melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada petani secara terpadu dan berkesinambungan.
Upaya pembinaan kepada petani selain melalui kegiatan penyuluhan secara rutin, juga dilakukan melalui kegiatan pelatihan dengan pola sekolah lapang (SL) Tebu. Seperti kegiatan SL yang digelar di desa/kampung Blang Mancung selama tiga hari mulai dari tanggal 11 sampai 13 April 2017 yang lalu. Kegiatan sekolah lapang ini merupakan salah satu metoda pelatihan yang memadukan antara teori dengan praktek, sehingga kegiatan semacam ini dinilai lebih efektif, karena petani dapat mempraktekkan langsung pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dengan pola SL ini dengan bimbingan langsung dari para pemateri..
Sekolah lapang Tebu yang diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 2 kelompok tani di Blang Mancung tersebut difokuskan kepada penguatan kelembagaan kelompok tani serta penerapan semua aspek budidaya tebu. Adapun materi SL meliputi penguatan kelembagaan kelompok tani, pemberdayaan kelompok tani, teknis budidaya, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit tanaman sera panen dan pasca panen.Adapun yang bertindak sebagai pemateri adalah Ir. Sulwan Amri (Kabid Perkebunan), H. Juanda, SP (Kabid Penyuluhan), Sumeri, SP, MP (Penyuluh/Kepala BPP Ketol) dan Rahmad, SP (Penyuluh/Kepala BPP Kute Panang).
Dipilihnya kampung Balng Mancung sebagai tempat penyelenggaraan sekolah lapang ini, menurut Kabid. Perkebunan, Ir. Sulwan Amri, didasari pertimbangan bahwa kampung ini memiliki areal perkebunan tebu yang paliang luas serta memiliki banyak unit-unit usaha pengolahan hasil tebu. Disamping itu, kampung ini juga merupakan pusat transaksi komoditi tebu antara petani dengan pedagang baik dari dalam maupun luar daerah. Sehingga dianggap perlu memberikan bekal pengetahuan dan penguatan kelembagaan yang memadai kepada para petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, sehingga bargaining position mereka bisa meningkat dan tidak selalu dirugikan oleh permainan harga dari pedagang.
“Penguatan kelembgaan kelompok tani tebu itu sangat penting, karena dengan adanya kelompok tani yang kuat dan mandiri, bargaining position mereka dalam transaksi produk komoditi tebu ini semakin kuat, sehingga mereka idak elalu dalam posisi yang dirugikan oleh permainan harga oleh pedagang” ungkap Sulwan.
Para peserta sendiri terlihat antusias selama mengikuti sekolah lapang ini, ini terlihat dari interaksi aktif mereka ketika menerima materi dari para nara sumber. Melalui sekolah lapang ini, para petani merasa diperhatikan oleh pemerintah, karena dalam sekolah lapang ini banyak sekali pengetahuan baru yang didapat oleh petani dan sangat bermanfaat bagi mereka untuk menjalankan usaha tani tebu yang berorientasi pasar (agribisnis). Naiknya posisi tawar petani dengan adanya penguatan kelembagaan kelompok tani ini, juga akan berdampak pada peningkatan nilai jual produk pertanian mereka yang sekaligus akan mampu mendongkrak kesejahteraan petani.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32