Wiknyo, Dambakan Kebun Plasma Nutfah Jeruk Gayo

Kategori : Sosok Rabu, 07 Juni 2017

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

 


Kalau ada yang bertanya siapa orang yang paling tau banyak tentang sejarah dan seluk beluk jeruk keprok Gayo?, jawabannya jelas, Wiknyo lah orangnya. Sosok laki-laki kelahiran Takengon, 16 Nopember 1954 ini, sudah sejak tahun 1980an yang lalu mulai konsen memperhatikan perkembangan berbagai varietas jeruk yang ada di dataran tinggi Gayo. Profesinya sebagai penyuluh pertanian, membuatnya sering blusukan keluar masuk kebun dan lahan pertanian milik petani, dari situlah kemudian dia tertarik untuk mempelajari lebih jauh sejarah dan seluk beluk jeruk, karena menurutnya komoditi ini punya prospek kedepan yang sangat bagus. Dia juga yang kemudian menyarankan kepada para petani di Gayo untuk menanam jeruk di sela-sela kebun kopi yang memang menjadi komoditi pertanian utama di daerah ini.
Dari catatatannya, ada sekitar 30 varietas jeruk yang tumbuh di dataran tinggi Gayo, dan 13 diantaranya memiliki nilai ekonomis yang cukup bagus, salah satunya adalah jeruk keprok Gayo. Itulah yang kemudian membawanya terlibat langsung untuk mengembangkan komoditi yang selama ini hanya dianggap seagai tanaman selingan itu. Untuk mengetahui seluk beluk komoditi jeruk ini, Wiknyo sempat beberapa kali menyambangi Balai Penelitian Jeruk dan Buah Tropika (Balitjestro) di Tlekung, Jawa Timur. Dari sinilah kemudian dia mulai tertarik untuk mengembangkan varietas jeruk spesifik daerahnya, dan mulailah dia fokus kepada jeruk keprok Gayo.
Tahun 1985 adalah awal “perburuan”nya untuk mencari pohon induk jeruk keprok yang memiliki keunggulan serta spesifikasi rasa dan aromanya. Akhirnya dia mendapati beberapa batang pohon jeruk keprok yang kebetulan terawat dengan sangat baik, sehingga menghasilkan buah kualitas premium di desa Pantan Jerik, Kecamatan Kute Panang. Dari pohon induk tersebut kemudian Wiknyo mengambil beberapa entres atau pucuk cabang untuk kemudian dia okulasi dengan jeruk JC sebagai batang bawahnya. Selain itu dia juga menangkarkan bibit yang berasal dari biji jeruk dari pohon induk yang sama. Hasil penangkarannya itu yang kemudian dia tanam di kebun yang kebetulan berada di sekeliling rumahnya di desa Paya Tumpi, sekitar 3 km dari pusat kota Takengon.
Dengan perawatan intensif, tanaman jeruknya tumbuh dengan sangat baik, dan ketika mulai berbuah, sifat genetik dari pohon induknya tidak berubah. Jeruk keprok yang ditanam Wiknyo, rata-rata buahnya berukuran besar (sekitar 3 – 4 buah per kilogramnya), bentuk buah bulat dengan kulit mulus mengkilap berwarna kuning kehijauan, dan ketika kulitnya dikupas, segera tercium aroma khas yang menyegarkan serta rasa jeruk yang sangat manis, persis sama dengan buah yang berasal dari pohon induknya.
Mulai yakin dengan keunggulan jeruk keprok yang ditanamnya, Wiknyo kemudian memberi nama varietas jeruk itu dengan nama jeriuk keprok Gayo, nama Gayo sendiri dipakai karena jeruk keprok ini bibit dan tempat tumbuhnya memang di dataran tinggi Gayo. Nama jeruk keprok Gayo mulai “berkibar” ketika Wiknya mengikutsertakan jeruknya dalam Kontes Buah Nusantara pada tahun 1993 yang lalu. Dengan berbagai keunggulannya, jeruk keprok Gayo yang diusungnya, langsung menyabet gelar Juara Pertama kontes buah yang diselenggarakan oleh Departemen Pertanian bekerjasama dengan majalah pertanian Trubus itu.
Gelar juara pertama dalam kontes buah tingkat nasional, membuat Wiknyo semakin termotivasi untuk mengembangkan komoditi ini, diapun mulai membuat bibit okulasi untuk disebarluaskan kepada para petani di daerah ini. Tanaman jeruk yang sudah berubah menjadi pohon induk di kebunnya, kemudian dia “isolasi” dengan membuat kurungan jarring yang menutup seluruh bagian tanaman. Tujuannya untuk mem”protect” pohon tersebut dari serangan hama dan penyakit tanaman serta untuk menghindari terjadinya mutasi gen yang dapat merusak kemurnian varietas jeruk ini. Dan sejak saat itu, tanaman jeruk Wiknyo sering dikunjungi oleh banyak kalangan, mulai dari para peneliti dari balai penelitian atau kampus perguruan tinggi, pejabat lingkup Depertemen Pertanian maupun pelaku usaha yang mulai tertarik untuk mengembangkan komoditi ini.
Melihat banyak pihak yang mulai tertarik pada jeruk keproknya, Wiknyo kemudian berupaya agar komoditi yang dikembangkannya selama bertahun-tahun ini mendapat pengakuan dan legalitas dari pemerintah. Perjuangan panjang Wiknyo akhirnya membuahkan hasil dengan keluarnya Keputusan Menteri Pertanian Nomor : : 210/Kpts/PR.120/3/2006 pada bulan Maret 2006 tentang pelepasan jeruk keprok Gayo sebagai komoditi unggul nasional. Berdasarkan keputusan tersebut, Wiknya tidak ragu lagi menyebut jeruk keprok yang dia kembangkan selama ini sebagai Jeruk Keprok Gayo, karena sudah memiliki payung hukum sendiri. Kegigihannya mengembangkan dan meperjuangkan jeruk keprok asal Gayo ini, membuat banyak kalangan yang menjuluki Wiknyo sebagai Pakar Jeruk Keprok Gayo, tak berlebihan memang, karena mungkin dia satu-satunya orang yang paling paham tentang jeruk keprok Gayo ini.
Keseriusan Wiknyo untuk “mengurus” jeruk keprok Gayo tidak berhenti sampai disitu, terinspirasi Indikasi Geografis (IG) yang telah diperoleh Kopi Arabika Gayo pada tahun 2010 lalu, dia kemudian juga berusaha agar jeruk keprok Gayo juga bisa memperoleh sertifikat IG. Perjuangan untuk mendapatkan sertifikat IG bagi jeruk keprok Gayo kemudian membawanya menjadi Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Jeruk Gayo (MPIG JG). Dengan “perahu” MPIG JG inilah kemudian Wiknyo mampu “memboyong” sertifikat Indikasi Geografis bagi Jeruk Keprok Gayo dari Kemneterian Hukum dan HAM pada tanggal 18 Juli 2016 yang lalu.


“Mimpikan” Kebun Plasma Nutfah Jeruk Gayo
Berhasil membawa jeruk keprok Gayo sebagai juara kontes buah nusantara, kemudian mendapat pengakuan sebagai komoditi unggul nasional dan memeperoleh sertifikat IG, tentu saja membuat Wiknyo pantas berbangga, karena sudah mampu mempersembahkan karya terbaiknya untuk Gayo, tanah kelahirannya. Tapi dibalik kebanggaan itu, Wiknyo masih menyimpan “mimpi” yang selama ini menjadi keprihatinannya.
“Mimpi” Wiknyo yang sampai saat ini belum terwujud adalah keinginan agar Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah) memiliki Kebun Plasma Nutfah Jeruk Gayo. Sudah beberpa kali dia mengusulkan ke pemerintah kabupaten, provinsi bahkan sampai ke pusat, tapi sampai dengan saat ini, usulannya tidak pernah terealisasi. Keberadaan kebun plasma nutfah jeruk Gayo ini menurut Wiknyo sangat penting sebagai upaya untuk melindungi bermacam varietas jeruk di dataran tinggi Gayo dari kepunahan. Dia menegarai beberapa varietas jeruk yang ada ddi Gayo mulai langka bahkan sudah mendekati punah.
“Beberapa varietas jeruk di Gayo ini sudah semakin sulit didapatkan, seperti jenis kelele, gelime manis, konde cina, asam taing kurik dan beberapa jenis lainya mulai langka, kalau dibiarkan, lama-lama kekayaan potensi pertanian Gayo ini bisa punah” ungkap Wiknyo prihatin.
Karena impiannya belum juga terwujud, Wiknyo dengan dukungan dinas pertanian setempat, beberapa tahun lalu telah mengirimkan beberapa sampel varietas jeruk Gayo ke Balitjestro, Tlekung untuk dimurnikan disana, sekaligus menyelamatkan plasma nutfah jeruk Gayo tersebut dari kepunahan. Namun ketika dia ingin memboyong bibit jeruk hasil pemurnian tersebut dari Balitjestro, dia terkendala dengan ketiadaan dana. Padahal kalau Gayo punya kebun plasma nutfah sendiri, tentu akan bisa melakukan pemurnian bibit sendiri dengan biaya yang lebih murah.
“Kalau kita punya kebun plasma nutfah sendiri, kita bisa elakukan pemurnian sendiri, dan kelestarian seluruh varietas jeruk yang ada disini bisa terjaga, tapi sudah puluhan tahun saya mengusulkannya kepada berbagai pihak, sampai saat ini belum terealisasi juga” lanjutnya “Saya khawatir, aklau kondisi demikian dibiarkan berlarut, banyak komoditi unggulan Gayo ini yang nanti hanya tinggal nama saja” ungkapnya sedikit pesimis.
Dia sangat berharap kepada pemerintah kabupaten Aceh Tengah, agar bisa segera merealisasikan “mimpi”nya itu, karena ini sebenarnya bukan sekedar impiannya pribadi, tapi juga merupakan kebutuhan bagi daerah sendiri.
“Saya sudah bicara langsung dengan pak Gubernur, pak Bupati dan Kepala Dinas Pertanian provinsi, saya berharap mereka tidak sekedar mendengarkan usulan saya, tapi juga segera menindak lanjutinya” harapnya.
Tapi entah kapan harapan dan “mimpi” seorang penyuluh yang sejak 2011 lalu telah memasuki masa pensiun ini akan terwujud, hanya para pemangku kebijakan lah yang bisa menjawabnya. Dan meski mimpinya tak jua terwujud, sang pakar tetap melanjutkan kiprahnya mengembangkan dan melestarikan komoditi unggulan daerahnya, karena jiwanya memang sudah tercurah untuk pertanian di Gayo, tempat kelahiran yang telah membesarkannya.
*) Kasi Metoda dan Informasi Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Pemerhati dan penulis artikel Pertanian dan Ketahanan Pangan di media cetak dan media online.

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32