Idul Fitri, Bukan Ajang Pemborosan dan Unjuk Kemewahan

Kategori : Feature Jumat, 09 Juni 2017

(Renungan Ramadhan dan Idul Fitri)

 

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq


Hanya tinggal beberapa hari lagi, kita akan meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan, kesibukan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut datangnya hari raya idul Fitri sudah mulai terlihat. Ada yang mulai sibuk mempersiapkan aneka kue dan hidangan lebaran, ada yang mulai sibuk memilih pakaian-pakaian bagus untuk dipakai oleh anggota keluarga di hari raya, ada yang sibuk mengecat atau mepercantik rumah, ada yang berlomba untuk membeli peralatan eletronik baru, ada juga yang sudah bersiap untuk menukar kendaraan mereka dengan yang baru. Semua kesibukan itu dilakukan mengatasnamakan menyambut hari kemenangan idul fitri, tapi benarkah semua itu ajaran dari Agama Islam?


Seperti sudah menjadi “tradisi” bagi sebagian besar ummat Islam di Indonesia dan sebagian negara-negara Asia, bahwa merayakan hari raya Idul Fitri mesti ditandai dengan semua yang seba baru dan istimewa. Mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, barang elektronik bahkan kendaraan, semua seakan “wajib” serba baru, begitu juga dengan menu makanan di hari spesial itu, juga harus istimewa, beda dengan hari-hari biasa.Itulah yang kemudian memicu sebagian orang berasumsi, bahwa hari raya bagi ummat Islam itu adalah “hari pemborosan”, dimana hampir setengah atau bahkan lebih “kekuatan” ekonomi keluarga Muslim terserap disitu. Lihat saja fakta di lapangan, belanja keluarga menghadapi Idul Fitri, jumlahnya bisa sampai 6 kali lipat dari penghasilan bulanan mereka. Ada kesan bahwa ummat Islam seperti “memaksa diri” dan membebani diri dengan sesuatu yang terkadang diluar kemampuan untuk melakukannya. Yang sehari-hari jarang menyajikan menu makanan special, tiba-tiba hari itu harus memaksakan diri untuk bisa menyajikan hidangan istimewa. Yang sehari-hari tampil dengan pakaian biasa-biasa saja, ujuk-ujuk kepingin tampil glamour, padahal kemampuan finansilanya belum tentu mendukung.

  


Tapi, benarkah Islam mengajarkan begitu?, menilik Firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 185, Allah hanya memerintahkan kepada ummat Islam untuk menyempurnakan puasa mereka sebulan penuh dan mengagungkan nama Allah ketika datang Idul Fitri. Cara mengagungkan nama Allah itupun sudah jelas, yaitu dengan meramaikan masjid, musholla, tanah lapang dengan sura takbir, tahlil dan tahmid, tidak tersirat dalam perintah Allah tersebut untuk merayakan Idul Fitri dengan “menumpahkan” semua potensi ekonomi yang akhirnya menimbulkan kesan berlebih-lebihan, suatu sifat yang tidak disukai Allah.
Kemudian ketika kita mengacu kepada sunnah dari Nabi Muhammad SAW, juga tidak terbersit sedikitpun perintah atau anjuran untuk merayakan Idul Fitri dengan cara yang berlebihan. Hanya ada beberapa anjuran Rasulullah dalam menyambut hari raya yang konon menjadi titik balik kembalinya fitrah manusia itu. Dan semua anjuran itu sama sekali tidak ada satupun yang “memberatkan” dan membebani ummat Islam dari kalangan apapun.


Pertama, berjalan ke tempat sholat serta mandi dan makan sebelum berangkat sholat Ied.


Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat Bukhari “ Dari Sa’ad Al Muyayyib, Rasululluah bersabda, ada tiga sunnah Idul Fitri yaitu : berjalan ke tempat sholat, mandi dan makan sebelum berangkat”.
Dari hadits tersebut, jelas tidak ada anjuran atau sunnah yang memberatkan, berjalan ke tempat sholat ied artinya nggak butuh kendaraan untuk pergi ke lapangan-lapangan atau masjid tempat digelarnya sholat Ied. Mandi dan makan sebelum berangkat sholat, juga hanya merupakan aktifitas rutin sehari-hari.

Kedua, berhias dan memakai pakaian yang suci.

Sunnah nabi ini juga tidak menganjurkan kepada ummat Islam untuk berlebih-lebihan, hanya berhias dan membersihkan diri serta memakai pakaian yang bersih dan layak, sama sekali tidak tersirat harus memakai pakaian baru, perhiasan mewah dan berhias berlebihan, semua disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tidak ada keharusan tertentu yang meberatkan.


Ketiga, bertakbir.


Rasulullah SAW menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca takbir, tahlil dan tahmid, mulai sejak berangkat dari rumah menuju tempat sholat Ied sampai dengan sebelum dimulainya sholat. Mebaca takbir tersebut disarankan dengan suara lantang dan bersama-sama, karena pada masa perjuangan nabi kita Muhammad SAW, gemuruh suara takbir dari ummat Islam pada waktu itu, mampu menggetarkan dan menciutkan nyali dari musuh-musuh ummat Islam yaitu kaum kafir dan musyrik.
Ada juga sebagian sahabat dan ulama yang menganjurkan takbir ini dimulai sejak malam hari raya, namun tidak ada anjuran untuk bertakbir keliling dengan kendaraan, apalgi kalau kesannya sampai mengganggu ketenangan dan ketenteraman. Namun jika dilakukan secara santun dan terkontrol dengan baik, tentu tidak ada salahnya, karena itu bisa menjadi bagian dari syiar agama, namun demikian mengontrol emosi massa yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu bukan hal yang mudah. Jadi memang sebaiknya takbiran ini dilaksanakan di masjid atau mushalla.


Keempat, melaksanakan sholat Ied secara berjamaah.


Inilah yang sebenarnya menjadi inti dari perayaan Idul Fitri, seluruh ummat Islam berbondong-bondong menuju masjid atau tanah lapang untuk bersama-sama menjalankan ibadah sunnat mu’akkad yaitu sholat Idul Fitri. Disitulan jurang pemisah, pembatas status social dan kesenjangan antara si kaya dengan si miskin dihapuskan, dan memang itulah makna dari idul fitri yang berarti kembali ke fitrah, dimana akan timbul kesadaran bahwa derajat manusia di sisi Allah itu sama, hanya tingkat keimanan dan ketaqwaan sajalah yang membedakannya.
Kelima, memperbanyak sedekah.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menganjurkan kepada ummatnya untuk meilik jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari menjalankan shlat ied. Ternyata dalam himbauan Rasulullah tersebut tersirat pesan bahwa ketika kita melalui jalan yang sama ketika berangkat dan pulang dari sholat ied, yang akan kita lihat juga akan sama, tapi jika kita melalui jalan yang erbeda, mungkin kita akan melihat sesuatu yang berbeda. Pada masa Rasululullah, ketika beliau berjalan menuju lapangan tempat sholat Ied, beliau juga memperhatikan para fakir miskin di sepanjang jalan yang beliau lalui, dan momentum itu beliau mafaatkan untuk memperbayak sedekah kepada para dhuafa tersebut. Jika hanya melalui jalan yang sama, jumlah sedekah kita hanya satu kali, namun jika mengambil jalan memutar, volume sedekah kita juga akan menjadi dua kali lipat.
Selain anjuran bersedekah di sepanjang jalan yang dilalui saat berangkat maupun pulang dari sholat Ied, Rasulullah juga menganjurkan untuk berbagi makanan dan kebutuhan lainnya kepada mereka yang mebutuhkan, sehingga semua ummat Islam baik yang kaya maupun yang papa, bisa menyambut gembira kedatangan hari raya itu.


Keenam, mempererat tali silaturrahmi.


Momentum hari raya Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi baik dengan orang tua, sanak family, tetangga dan handai taulan. Disinlah yang kemudian dimaknai oleh sebagian orang untuk menyediakan makanan dan minuman special bagi para tamu, ya meski kita di sunnahkan untuk memuliakan tamu dengan makanan dan minuman, namun tidak mesti berlebihan dan memaksakan diri. Bahkan jika terlalu berlebihan akan menimbulkan riya dan kesombongan, dimana kemudian orang membandingbandingkan menu makanan yang tersaji dari satu keluarga ke keluarga lainnya, perbedaan yang ada bahkan mungkin akan jadi sumber fitnah, dan itu yang harus kita hindari pada saat hati kita kembali kepada kesucian.
Begitu juga dengan pakaian pada saat silaturrahmi dengan sesame Muslim, tentu tidak boleh hanya berpatokan kepada selera, tapi juga harus mepertimbangkan factor tenggang rasa. Jangan sampai seagian ummat Islam menjadi minder atau rendah diri karena tidak bisa memebeli pakaian bagus dan mahal, ini bisa jadi penghambat dan kendala untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesame Muslim.
Ada kecenderungan sebagian keluarga Muslim, untuk “memamerkan” property rumah tangga mereka, mulai dari perabot rumah tangga sampai barang elektronik kepada tamu yang datang bersilaturrahmi, jelas itu bukan anjuran dari Rasulullah, karena beliau selalu menganjurkan kesederhanaan dalam semua hal, sehingga tidak ada keseganan siapapun untuk masuk dan bertamu ke rumah kita.
Untuk bersilaturrahmi, mungkin juga butuh sarana transportasi, khususnya untuk mengunjungi orang tua atau sanak family yang berada jauh dari tempat kita, tapi tidak mesti juga kita harus memaksakan diri untuk membeli kendaraan baru. Harus ada perasaan tenggang rasa kepada mereka yang kurang beruntung tidak memiliki kendaraan sendiri. Kendaraan baru juga bisa meicu timbulnya keangkuhan dan kesombongan, sifat yang seharusnya kita “kubur” pada saat kita kembali ke fitrah ini.
Menyimak keenam point anjuran tersebut di atas, jelas tidak ada satupun himbauan apalagi perintah untuk menyambut Idul Fitri secara berlebihan, apalagi sampai memaksakan diri, misalnya dengan berhutang kesana kemari yang ujung-ujungnya akan menyulitkan diri sendiri pasca lebaran. Sebagai ummat Islam yang juga ummat Nabi Muhammad SAW, sudah semestinya kita bercontoh dari kesederhanaan Rasulullah dalam menyambut hari dimana kita kembali kepada fitrah kita. Namun jika kita belum mampu mengendalikan nafsu kita ketika memasuki Idul Fitri, agaknya kita masih harus mempertanyakan kesucian yang akan kita raih pada saat Idul Fitri ini.
Bukan menggurui atau menceramahi, namun penulis berharap, apa yang penulis bagikan lewat tulisan ini bisa jadi bahan renungan bagi kita semua, bahwa Idul Fitri bukanlah sebuah tradisi yang harus kita meriahkan dengan sesuatu yang serba “wah”, tapi Idul Fitri adalah momentum untuk introspeksi agar kita tetap bisa menjaga kesucian hati dan perbuatan kita setelahnya. Sangat tepat kiranya sebuah riwayat yang menyatakan “Idul fitri bukanlah karena pakaian yang baru, tapi hakekat Idul Fitri adalah kembalinya kesucian hati”, semoga bermanfaat.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32