6.85 THL TBPP Resmi Menjadi Penyuluh Pertanian PNS

Kategori : Penyuluhan Pertanian Rabu, 13 September 2017

Di tengan-tengah makin minimnya tenaga penyuluh pertanian, karena banyak yang pensiun atau pindah tugas ke struktural, Kementerian Pertanian menambah tenaga baru penyuluh pertanian. Sebanyak 6.085 Tenaga Harian Lepas Penyuluh Pertanian (THLTBPP) diangkan menjadi Penyuluh Pertanian PNS.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, formasi CPNS untuk Penyuluh Pertanian Lapangan tersebut sebanyak 96% SK-nya (Surat Keputusan) sudah dikeluarkan Bupati/Walikota. “Sebenarnya kita mengajukan 7.600 orang, tapi yang disetujui 6 ribu lebih. Tapi menurut saya ini sudah sangat luar biasa sekali,” katanya saat Pengarahan dan Pelepasan CPNS PPL di Jakarta, Selasa (12/9).
Amran mengatakan, para PPL ini terpilih karena mampu bekerja dengan baik dan produksi pangan di daerahnya mengalami kenaikan yang signifikan. “Mereka ini yang lolos adalah orang-orang yang terpilih. Makanya saya sangat berharap lebih kepada mereka semua. Semakin mampu meningkatkan produksi, mampu mengatasi hama dan penyakit, mampu mengolah manajemen pengairan dengan baik dan menggunakan teknologi yang telah dianjurkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan),” tuturnya.
PPL sendiri, Amran mengakui, adalah garda terdepan dalam mencapai swasembada pangan karena dengan adanya penyuluh, petani mau belajar mengenal teknologi dan mulai beralih ke pertanian modern. “Dulu untuk penyerapan teknologi di petani sangat sulit dilakukan. Untuk mengenalkan varietas terbaru saja, petani masih ragu-ragu. Tetapi berkat kerja keras penyuluh, petani mulai menerima teknologi dengan tangan terbuka,” jelasnya.
Salah satu PPL asal Padang Pariaman (Sumatera Barat), Reci Cani mengatakan, semangat untuk mentransfer ke petani di daerahnya tidak terbatas waktu. Agar para petani kerjanya tidak terganggu pada siang hari, penyuluhan (bimbingan) selalu dilaksanakan malam hari. “Ya bisa dibilang, kami para PPL di Padang Pariaman ini bekerja hingga 24 jam karena para petani membutuhkan kami,” katanya.
Berkat totalitas kinerja para PPL, tidak heran produksi padi di Padang Pariaman mengalami peningkatan hingga 50%. Saat ini ungkap Reci Cani, hampir diseluruh Padang Pariaman budidaya padi menerapkan teknologi jajar legowo (jarwo) 4:1 dengan varietas PB 42. “Jadi tak heran, kami mampu memproduksi padi hingga 6 ton/ha, padahal dulunya kami hanya mampu memproduksi 4 ton/ha,” katanya. (Fathan Muhammad Taufiq, Sumber : Kementerian Pertanian/Tabloid Sinar Tani)

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32