Petani dan Penyuluh Pegasing Buru Tikus

Kategori : Petani dan Kelembagaan Petani Jumat, 15 September 2017

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)


Tikus sawah merupakan hama utama penyebab kerusakan padi di Indonesia. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun, bahkan bisa lebih dari itu. Serangan tikus sawah terjadi sejak pesemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya.
Namun bukan berarti bahwa hama tikus tidak dapat dikendalikan, ada beberapa cara untuk mengendalikan hama tikus ini dengan memperhatikan sifat biologis dan siklus hidupnya. Dengan mengetahui sifat biologis dan siklus hidupnya, akan lebih mudah mengendalikan hama tikus ini. Upaya pengendalian pada masa fase awal perkembang biakannya, akan lebih efektif, karena dengan melakukan pengendalian pada fase ini, anak-anak tikus tidak akan berkembang menjadi tikus dewasa yang berpotensi menyebakan kerusakan pada lahan pertanian.
Upaya Pengendalian
Hama tikus dominan menyerang lahan sawah atau areal pertanaman padi, jika tidak dikendalikan dari awal, maka serangan hama tikus ini bisa menyebabkan kegagalan panen. Supaya lebih efektif, pengendalian hama tikus di lahan sawah harus dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal musim tanam, dilakukan petani secara bersama-sama dan terkoordinir dalam skala hamparan, intensif, dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai.
2. Untuk tikus lokal, pengendalian intensif dilakukan sebelum periode aktif perkembangbiakan tikus sawah yang bertepatan dengan stadia padi generative, atau pada saat padi mulai bunting, karena padi muda sangat digemari oleh tikus..
3. Untuk tikus migran yang berasal dari tempat lain, pengendalian intensif dilakukan sebelum tikus mencapai pertanaman di lokasi target pengendalian. Misalnya dengan pemasangan LTBS (Linear Trap Barner System) atau perangkap bubu berlapis untuk memotong arah migrasi, atau fumigasi dan gropyok massal di lokasi asal tikus.
Adapun tindakan pengendalian yang perlu dilakukan oleh petani dibantu oleh brigade pengendalian hama dari dinas atau instansi terkait adalah sebagai berikut :
a. Untuk wilayah endemik atau lahan sawah yang yang selalu terjadi serangan setiap musim tanam, lakukan pengendalian intensif berkelanjutan terutama 2 minggu sebelum dan sesudah tanam. Pengendalian untuk wilayah endemic seperti ini bisa dilakukan dengan cara gropyokan atau perburuan tikus secara manual dan dapat dilanjutkan dengan pemasangan umpan beracun.
b. Untuk wilayah sporadic atau wilayah yang hanya mendapat serangan hama tikus pada waktu-waktu tertentu, lakukan monitoring intensif untuk memantau dan menekan poluasi awal. Misalnya dengan penerapan TBS (Trap Barner System) atau perangkap bubu pada awal tanam di habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, pematang besar, dan tanggul jalan.
c. Sementara untuk wilayah yang masih amandari serangan tikus, lakukan monitoring dengan memperhatikan tanda-tanda keberadaan tikus, seperti jejak kaki (footprint), lubang aktif, dan gejala serangan/kerusakan tanaman. Kebersihan lingkungan di sekitar lahan sawah juga harus diperhatikan, karena lahan kotor dan bersemak di sekitar sawah, berpotensi menjadi sarang tikus.
Petani Pegasing lakukan perburuan tikus.
Wilayah kecamatan Pegasing di Kabupaten Aceh Tengah, merupakan salah satu wilayah yang meiliki lahan sawah yang cukup luas. Di wilayah ini terdapat hampir 1.000 hektar sawah yang belakangan sudah mulai ditanami padi dua kali setahun. Meningkatnya indeks pertanaman ini, juga memicu berkembangkanya hama tikus di wilayah ini.
Untuk mengantisipasi serangan hama tikus tersebut, para penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Pegasing, selama dua hari ini menggandeng brigade proteksi dan pengamat hama dan penyakit tanaman (PHP) yang ada di kabupaten Aceh Tengah melakukan kegiatan groyokan atau perburuan tikus secara manual bersama para petani di daerah ini. Pelaksanaan gropyokan ini perlu dilakukan karena sebentar lagi di sebagian besar wilayah tersebut akan dilakukan musim tanam kedua setelah memasuki masa panen pada bulan lalu.
Menggunakan alat sederhana berupa parang, cangkul, linggis dan pentungan, para petani bersama petugas PHP dan para penyuluh, melakukan pembongkaran gundukan tanah yang ditengarai sebagai sarang tikus. Stelaha sarang tikus tersebut di bongkar, tikus-tikus yang berlarian ke lahan sawah yang bari dipanen itu kemudian diburu beramai-ramai menggunakan parang dan pentungan.


Ternayata upaya ini cukup efektif, hanya dalam beberapa jam saja, upaya perburuan tikus itu sudah ratusan ekor tikus berhasil dibunuh. Kalau upaya seperti ini dapat dilakukan secara rutin, maka dapat dipartikan populasi tikus akan terus menurun dan serangan hama tikus pada tanaman padi mereka dapat diminimalisir. Menurut Kepala BPP Pegasing, Sumeri, SP, MP dan Koordinator PHP, Sulaiman Mantam, SP, gerakan perburuan tikus ini akan terus dilakukan sampai mendekati musim tanam kedua tahun 2017 ini
“Kita akan terus melakukan perburuan tikus seperti ini bersama petani sampai dengan dimulainya musim tanam kedua yang akan dimulai pada awal bulan Oktober di wilayah ini, karena kami menilai cara ini cukup efektif untuk mengendalikan hama tikus” ungkap Sumeri.
Lebih lanjut Sumeri menyatakan, kedepan nanti para petani dapat melakukan kegiatan penggropyokan tikus ini secara berkala, karena selain caranya mudah, juga hanya dibutuhkan peralatan sederhana yang pasti dimiliki oleh setiap petani. Meskipun caranya cukup sederhana, namun cara ini sangat efektif untuk mengendalikan hama tikus yang selama ini menjadi musuh petani.
“Hama tikus yang tidak dikendalikan dengan baik, bisa mengancam hasil panen petani, jadi dari awal kita terus melakukan upaya pemberantasan hama ini, dan Alhamdulillah petani disini cukup antusias melakukan kegiatan ini, mudah-mudahan pada musim tanam kedua nanti, tidak ada lagi serangan hama tikus di daerah ini” pungkas Sumeri.

a. Untuk wilayah endemik atau lahan sawah yang yang selalu terjadi serangan setiap musim tanam, lakukan pengendalian intensif berkelanjutan terutama 2 minggu sebelum dan sesudah tanam. Pengendalian untuk wilayah endemic seperti ini bisa dilakukan dengan cara gropyokan atau perburuan tikus secara manual dan dapat dilanjutkan dengan pemasangan umpan beracun.
b. Untuk wilayah sporadic atau wilayah yang hanya mendapat serangan hama tikus pada waktu-waktu tertentu, lakukan monitoring intensif untuk memantau dan menekan poluasi awal. Misalnya dengan penerapan TBS (Trap Barner System) atau perangkap bubu pada awal tanam di habitat tikus seperti tepi kampung, tanggul irigasi, pematang besar, dan tanggul jalan.
c. Sementara untuk wilayah yang masih amandari serangan tikus, lakukan monitoring dengan memperhatikan tanda-tanda keberadaan tikus, seperti jejak kaki (footprint), lubang aktif, dan gejala serangan/kerusakan tanaman. Kebersihan lingkungan di sekitar lahan sawah juga harus diperhatikan, karena lahan kotor dan bersemak di sekitar sawah, berpotensi menjadi sarang tikus.
Petani Pegasing lakukan perburuan tikus.
Wilayah kecamatan Pegasing di Kabupaten Aceh Tengah, merupakan salah satu wilayah yang meiliki lahan sawah yang cukup luas. Di wilayah ini terdapat hampir 1.000 hektar sawah yang belakangan sudah mulai ditanami padi dua kali setahun. Meningkatnya indeks pertanaman ini, juga memicu berkembangkanya hama tikus di wilayah ini.
Untuk mengantisipasi serangan hama tikus tersebut, para penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Pegasing, selama dua hari ini menggandeng brigade proteksi dan pengamat hama dan penyakit tanaman (PHP) yang ada di kabupaten Aceh Tengah melakukan kegiatan groyokan atau perburuan tikus secara manual bersama para petani di daerah ini. Pelaksanaan gropyokan ini perlu dilakukan karena sebentar lagi di sebagian besar wilayah tersebut akan dilakukan musim tanam kedua setelah memasuki masa panen pada bulan lalu.
Menggunakan alat sederhana berupa parang, cangkul, linggis dan pentungan, para petani bersama petugas PHP dan para penyuluh, melakukan pembongkaran gundukan tanah yang ditengarai sebagai sarang tikus. Stelaha sarang tikus tersebut di bongkar, tikus-tikus yang berlarian ke lahan sawah yang bari dipanen itu kemudian diburu beramai-ramai menggunakan parang dan pentungan.

Ternayata upaya ini cukup efektif, hanya dalam beberapa jam saja, upaya perburuan tikus itu sudah ratusan ekor tikus berhasil dibunuh. Kalau upaya seperti ini dapat dilakukan secara rutin, maka dapat dipartikan populasi tikus akan terus menurun dan serangan hama tikus pada tanaman padi mereka dapat diminimalisir. Menurut Kepala BPP Pegasing, Sumeri, SP, MP dan Koordinator PHP, Sulaiman Mantam, SP, gerakan perburuan tikus ini akan terus dilakukan sampai mendekati musim tanam kedua tahun 2017 ini
“Kita akan terus melakukan perburuan tikus seperti ini bersama petani sampai dengan dimulainya musim tanam kedua yang akan dimulai pada awal bulan Oktober di wilayah ini, karena kami menilai cara ini cukup efektif untuk mengendalikan hama tikus” ungkap Sumeri.
Lebih lanjut Sumeri menyatakan, kedepan nanti para petani dapat melakukan kegiatan penggropyokan tikus ini secara berkala, karena selain caranya mudah, juga hanya dibutuhkan peralatan sederhana yang pasti dimiliki oleh setiap petani. Meskipun caranya cukup sederhana, namun cara ini sangat efektif untuk mengendalikan hama tikus yang selama ini menjadi musuh petani.
“Hama tikus yang tidak dikendalikan dengan baik, bisa mengancam hasil panen petani, jadi dari awal kita terus melakukan upaya pemberantasan hama ini, dan Alhamdulillah petani disini cukup antusias melakukan kegiatan ini, mudah-mudahan pada musim tanam kedua nanti, tidak ada lagi serangan hama tikus di daerah ini” pungkas Sumeri.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32