Waspadai Hama Wereng Batang Coklat

Kategori : Perlindungan Tanaman Rabu, 20 September 2017

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*)


Salah satu penyebab kegagalan panen pada budidaya padi, adalah akibat terjadinya serangan hama dan penyakit pada tanaman tersebut. Jika tidak dikendalikan dengan baik, maka serangan hama dan penyakit tanaman tersebut berpotensi menyebabkan kegagalan sebagian bahkan keseluruhan hasil panen. Program pemerintah untuk mempercepat tercapainya swasembada pangan, khususnya beras, kemudian berdampak pada peningkatan indeks pertanaman (IP), dari rata-rata haya sekali tanam dalam setahun menjadi 2 kali atau lebih.
Meningkatnya indeks pertanaman padi turut berpengaruh terhadap meningkatnya potensi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), baik berupa hama maupun penyakit tanaman. Salah satu jenis hama yang belakangan santer dibicarakan bahkan sudah menjadi isu nasional adalah kemabli mewabahnya wereng batang coklat (WBC). Wereng batang coklat ini merupakan prototype baru hama wereng yang menyerang tanaman padi, meski siklus hidupnya hanya sekitar 21-33 hari, namun hama WBC ini dapat menimbulkan kerusakan parah pada hamparan tanaman padi. Kondisi ini akan bertambah parah jika teknologi budidaya tanaman yang diterapkan petani tidak optimal serta kondisi iklim yang cenderung relatif basah.
Hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa sampai dengan akhir semester pertama tahun 2017 ini, hama wereng batang coklat ini telah menimbulkan kerusakan lebih dari 900 hektar pertanaman padi di pulau Jawa dan ratusan hektar lainnya di pulau Sumetera.. Walaupun luas serangannya masih rendah dibandingkan dengan OPT lainnya seperti tikus, blas, kresek, pengggerek batang dan walang sangit, namun keberadaan hama potensial ini perlu diwaspadai karena selain merusak langsung dengan cara menusuk dan mengisap jaringan tanaman hingga puso (gagal panen), Selain menjadi hama yang langsung menyerang tanaman padi, wereng batang coklat ini juga memiliki kemampuan menularkan virus (sebagai vektor) penyebab penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa yang patut menjadi perhatian bagi kita.

Kondisi pertanaman padi sawah yang dipupuk dengan nitrogen dengan dosis tinggi dan penggunaan jarak tanam yang rapat merupakan kondisi yang sangat disukai hama jenis ini. Stadium atau periode pertumbuhan tanaman padi yang cukup rentan terhadap serangan WBC adalah dari pembibitan sampai fase matang susu (bahasa Gayo : Seroh). Tanaman padi yang terkena serangan WBC akan menunjukkan gejala primer berupa tanaman padi menguning dan cepat sekali mengering atau lebih dikenal dengan hopper burn. Sedangkan, gejala sekunder yang muncul akibat adanya serangan WBC adalah menyebabkan tanaman padi yang terserang menjadi kerdil yang pertumbuhannya menyerupai rumput (kerdil rumput) serta pada stadia pertumbuhan tanaman lebih lanjut juga dapat menimbulkan gejala kerdil hampa.


Langkah pengendalian.
Melalui Direktorat Perlindungan Tanaman, Kementerian Pertanian telah mengintruksikan kepada seluruh jajaran pertanian di daerah untuk melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengendalikan hama wereng batang coklat ini. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menekan serangan hama wereng batang coklat yang direkomendasikan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman antara lain ::
1. Penggunaan/Penanaman varietas yang mempunyai ketahananterhadap WBC terutama di daerah endemik, seperti Inpari 1, Inpari 6, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 31, Inpari 33, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5. Sementara untuk dataran tinggi, varietas inpari 28 juga dianggap cukup resisten terhadap serangan hama wereng ini.
2. Sesering mungkin lakukan pemantauan terhadap populasi WBC pada pertanaman padi terutama pada periode kritis (pembibitan-matang susu). Apabila populasi WBC telah melampaui 15 ekor/rumpun, lakukan tindakan pengendalian dengan pestisida, lebih disarankan untuk menggunakan pestisida nabati yang ramah lingkungan.
3. Penggunaan lampu perangkap dan likat kuning untuk mengetahui keberadaan WBC. Jika populasi WBC yang tertangkap sudah mencapai ratusan berarti sudah perlu dilakukan pemeriksaan pada lahan pertanaman.
4. Melakukan pergiliran varietas untuk mengurangi tingkat serangan WBC serta mencegah timbulnya biotipe baru dari WBC. Pergiliran tanaman selain padi untuk memutus siklus hidup WBC. Kondisi ini sangat dianjurkan jika memang di daerah tersebut keadaan serangan WBC sudah cukup parah dan dikhawatirkan dapat menularkan penyakit.
5. Pemberian pupuk Kalium untuk mengurangi kerusakan dan upayakan pemberian pupuk Nitrogen disesuaikan dengan kondisi
6. Pengaturan jarak tanam untuk memberikan ruang udara terbuka di lahan pertanaman sehingga memungkinkan sirkulasi udara untuk mengurangi kelembaban pada pertanaman. Penanaman dengan teknologi jajar legowo dapat menjadi solusi untuk mengurangi kerusakan karena WBC. Pola tanam jajar legowo (Jarwo) yang kini sudah mulai diterapkan oleh petani merupakan salah satu pola tanam yang cukup efektif untuk menghambat perkembangan hama wereng batang coklat ini.
7. Penggunaan biopestisida yang berbahan aktif Beauveria maupun Metharizium bisa menjadi langkah antisipatif untuk mencegah munculnya serangan WBC.• Pengendalian dengan insektisida kimia yang berbahan aktif: amitraz, buprofezin, BPMC, fipronil, imidakloprid, karbofuran, karbosulfan, metolkarb, MIPC, propoksur, atau tiametoksam sesuai dengan dosis yang dianjurkan, sebagai langkah kuratif untuk memusnahkan WBC yang telah menyerang pertanaman.
8. Memusnahkan tanaman yang telah terserang penyakit virus kerdil rumput maupun kerdil hampa untuk mencegah tersebarnya bibit penyakit ke pertanaman padi lainnya.


Belum ada serangan WBC di Gayo.
Dari pantauan yang dilakukan oleh petugas Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman (PHP) yang bertugas di kabupaten Aceh Tengah, sejauh ini keberadaan hama wereng batang coklat belum terlihat menyerang lahan persawahan yang ada di daerah. Ma,un demikian pihak terkait terus melakukan upaya pemantauan secara terus menerus untuk mendeteksi secara dini gejala serangan hama yang cukup berbahaya ini agar jangan sampai masuk ke daerah ini. Menurut Koordinator PHP Kabupaten Aceh Tengah, Sulaiman, SP, di provinsi tetangga yaitu Sumatera Utara, sudah mulai terjadi serangan hama wereng atang coklat ini, untuk itu pihaknya terus melakukan pemantauan agar hama tersebut jangan sampai ber’migrasi’ ke daerah ini.
Menurut Sulaiman, merubah pola tanam dari pola konvensional ke pola jajar legowo serta penggunaan benih unggul, adalah salah satu upaya efektif untuk mencegah menyebarnya hama wereng batang coklat ini. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan para penyuluh di lapangan dan segera melaporkan kepada instansi terkait jika menemukan gejalan serangan hama ini di lapangan.
“Meski sejauh ini belum ada terlihat adanya gejala serangan hama wereng batang coklat di daerah ini, namun kita harus tetap mewaspadainya, karena penyebaran hama jenis ini cukup cepat dan jika tidak dipantau sehjak dini, akan sulit mengendalikannya nanti” ungkap Sulaiman. Dia juga mengingatkan agar petani selektif jika menggunakan benih yang berasal dari luar daerah, karena ini juga berpotensi menjadi penyebab masuknya hama ini.


 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32