Kepala BPP Pegasing, Sumeri, Ajarkan Budidaya Kopi Sampai Ke Papua

Kategori : Sosok Rabu, 29 November 2017

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Sebagai penyuluh pertanian yang bertugas di daerah penghasil kopi arabika terbesar di Indonesia, sudah semestinyalah para penyuluh pertanian yang bertugas di daerah ini mengusai berbagai seluk beluk tentang komoditi perkebunan andalan dataran tinggi Gayo ini. Selain sebagai bekal untuk melakukan pendampingan dan penyuluhan kepada petani kopi yang ada di daerah ini, pengetahuan dan keterampilan tentang perkopian juga bermanfaat bagi sang penyuluh untuk berbagi kepada penyuluh dan petani dari luar daerah.
Meski jumlah penyuluh pertanian yang ada di kabupaten Aceh Tengah mencapai 150an orang, namun hanya beberapa penyuluh saja yang sangat menguasai pengetahuan tentang kopi arabika Gayo ini. Salah seorang diantaranya adalah Sumeri, SP, MP yang saat ini bertugas di BPP Pegasing sekaligus dipercaya sebagai Kepala atau Koordinator di Balai Penyuluhan Pertanian tersebut. Untuk urusan kopi arabika, alumni Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon dan penyandang Magister Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala ini, boleh di bilang sudah sangat menguasai, terutama di bidang teknik budidayanya.
Keberadaannya sebagai penyuluh pertanian yang pernah bertugas di hampir semua wilayah kabupaten Aceh Tengah, semakin ‘memperkaya’ pengetahuan dan pengalamannya dengan perkopian. Begitu juga aktifitasnya dalam komunitas Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) juga membuat Sumeri semakin ‘matang’ dalam bidang perkopian. Keahlian inilah yang kemudian sering membawa Sumeri melanglang daerah untuk memberikan pembelajarn tentang kopi kepada petani di berbagai daerah, terutama di wilayah provinsi Aceh dan Sumatera Utara.


“Terbang” ke Papua difasilitasi oleh Kementerian BUMN
Kemampuannya dalam teknik budidaya kopi arabika inilah yang kemudian ‘dilirik’ oleh Kementerian BUMN yang kemudian mengajaknya ke ujung timur Indonesia. Melalui program “La Pago Bekerja dan Unggul”, Sumeri ‘dirangkul’ oleh Kemnterian BUMN bekerja sama dengan SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) untuk mengajarkan teknik budidaya kopi arabika kepada para petani kopi di dua kabupaten di Papua yaitu kabupaten Puncak Jaya dan Nabire. Kedua daerah ini sebenarnya merupakan daerah penghasil kopi arabika di Papua, namun budidya kopi rakyat di sana masih belum dilakukan secara intensif, sehingga produktifitas dan kualitas kopi arabika yang dihasilkan oleh para petani belum seperti yang di harapkan.
La Pago merupakan wilayah adat yang letaknya terpencil di pegunungan yang berada di bagian timur Papua yang masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada usaha pertanian, namun karena pola usaha tani yang mereka lakukan selama ini masih bersifat tradisional dan konvensional, maka kesejahteraan petani pun masih tergolong rendah. Itulah yang kemudian melatar belakangi Kementerian BUMN meluncurkan Gerakan La Pago Bekerja dan Unggul sebagai upaya meberdayakan petani agar dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dan program kementerian yang dipimpin oleh Rini Soemarno inilah yang kemudian membawa penyuluh pertanian asal Gayo ini ‘terbang’ ke Papua.
Khusus untuk Sumeri, pihak Kemeterian BUMN memberikan ‘beban’ untuk menyampaikan materi tentang teknik budidaya kopi baik secara teori maupun praktek, Dan sesuai dengan prinsip budidaya kopi organik yang selama ini diterapkan di Dataran Tinggi Gayo, materi yang diberikan Sumeri kepada para petani di Papua tersebut mengangkat tema ‘Budidaya Kopi Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan’. Tentu bukan hal sulit bagi Sumeri, karena dalam kesehariannya dia memang berkecimpung dalam pembinaan dan penyuluhan petani kopi Gayo di wilayah binaannya yang mayoritas memang menggunakan pola organik. yang tentu saja ramah lingkungan.


Petani Papua antusias
Selama hampir 10 hari, Sumeri bersama rombongan dari Kemnterian BUMN kemudian menjelajahi 2 distrik yaitu Distrik Mulia di kabupaten Puncak Jaya dan Distrik Dogiyae di kabupaten Nabire untuk memberikan pembelajaran tentang teknik budidaya kopi arabika sebagaimana yang telah diterapkan oleh petani kopi Gayo selama ini. Selama Sumeri menyampaikan materinya baik secara teori maupun praktek, terlihat antusias petani di ujung timur Indonesia itu menyimak setiap materi yang disampaikannya. Ini yang membuat Sumeri patut berbangga, karena ilmu tentang kopi yang dimilikinya akhirnya bisa memberi manfaat bagi para petani di Papua.
“Sebagai seorang penyuluh, sudah menjadi kewajiban saya untuk berbagi pegetahuan kepada petani, tidak terbatas hanya di daerah tempat saya bertugas, tapi juga bagi petani di daerah lain. Alhamdulillah, ketika saya mulai menginjakkan kaki di tanah Papua, saya mendapatkan sambutan yang sangat baik dari petani maupun tokoh adat disini, begitu juga ketika saya menyampaikan materi, saya dapat melihat mereka sangat antusias untuk menyimak materi yang saya sampaikan, ini yang membuat saya merasa bangga bisa membawa nama baik penyuluh pertain Gayo sampai ke ujung timur Indonesia” ungkap Sumeri melalui telepon selulernya sesaat sebelum meninggalkan Bandara Nabire, Jum’at (24/11/2017) kemarin untuk kembali ke Jakarta.
Rasa puas tidak hanya dirasakan oleh Sumeri, bahkan Menteri BUMN Rini Soemarno pun menyatakan kepuasannya atas apa yang telah dilakukan oleh penyuluh pertanian yang juga pernah menjadi dosen di Universitas Gajah Putih Takengon ini. Tak lupa sang Menteri juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada Sumeri dan tim dari Kementerian BUMN.

 


“Dari pantauan kami, program pemberdayaan petani di wilayah terpencil Papua ini cukup sukses, petani disana terlihat sangat antusias menyambut program ini, khusus untuk pak Sumeri yang datang jauh dari Aceh dan telah meluangkan waktu, tenaga dan fikirannya untuk membantu mensukseskan program ini, kami atas nama pemerintah menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih sedalam-dalamnya” ungkap Rini sebagaimana ditirukan oleh Sumeri.
*)Peminat bidang pertanian, penyuluhan dan ketahanan pangan, contributor berita dan artikel di beberapa media cetak dan online, berdomisili di Takengon, Aceh.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32