Kunjungi Atu Lintang, Pak Darjo Puas Lihat Keberhasilan Petani

Kategori : Penyuluhan Pertanian Selasa, 16 Januari 2018

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

 

   

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Drs. Hasanuddin Darjo, MM atau yang akrab disapa dengan panggilan Pak Darjo, adalah sosok pejabat pertanian yang punya ‘hobi’ blusukan ke hampir semua tempat di wilayah Aceh. Bukan untuk pencitraan, tapi sebagai pejabat nomor satu di bidang pertanian Aceh, sosok Pak darjo memang sudah sejak lama dikenal akrab dengan kalangan petani dan penyuluh pertanian yang ada di seantero provinsi Aceh. Bagi Pak Darjo, lahan pertanian, saung kelompok tani dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sudah merupakan ‘kantor kedua’ baginya. Dan memang, dengan seringnya beliau blusukan ke kelompok tani maupun ke ‘markas’nya para penyuluh pertanian, beliau jadi tau persis apa yang dibutuhkan oleh petani dan penyuluh di lapangan.

“Tradisi” keluar masuk lahan pertanian, bertemu dan bercengkerama dengan petani dan penyuluh, sejatinya bukan hal baru bagi Pak Darjo. Kebiasaan seperti itu sudah beliau lakukan sejak beliau menjabat sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP Luh) Aceh tahun 2013 – 2014 yang lalu. Bahkan jauh sebelum itu, ketika beliau masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Aceh Tenggara, keakraban beliau dengan para petani dan penyuluh sudah terlihat.
Sempat ‘berpisah’ sesaat dengan lingkungan pertanian di Aceh, saat beliau ‘berpindah pos’ menjadi Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah dan Dinas Pendidikan Aceh, awal tahun 2017 lalu, Pak Darjo seperti menemukan kembali ‘dunia’nya. Kembali ke ‘habitat’ dengan predikat baru sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Pak Darjo seperti baru kemabli dari ‘dunia yang hilang’. Dan sejak itu pula ‘tradisi’ blusukan ke lahan petani yang lebi dua tahun beliau tinggalkan, kembali menjadi agenda rutinnya.


Rindukan Tanoh Gayo
Dataran tinggi Gayo, sepertinya memiliki tempat spesifik dalam hati Pak Darjo, bukan saja karena beliau memang berasal dari wilayah tengah Aceh ini, tapi bagi beliau, Tanoh Gayo selalu menyimpan kerinduan untuk dikunjunginya. Kerinduan itu serasa terobati ketika kemudian beliau ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Bupati Bener Meriah pada akhir tahun 2016 lalu. Meski hanya sekitar 3,5 bulan menjadi pelaksana tugas bupati, namun sudah cukup mengobati kerinduannya pada Tanoh Gayo. Kesempatan itu pulalah yang kemudian beliau manfaatkan untuk mempererat tali silaturrahmi dengan para petani dan penyuluh pertanian yang ada di seputrana Dataran Tinggi Gayo, bukan hanya di Bener Meriah, tapi juga di Aceh Tengah yang notabene merupakan induk dari kabupaten Bnere Meriah sebelum dimekarkan pada tahun 2002 yang lalu.
Kembali pada ‘pos’ sebelumnya pada Dinas Pendidkan Aceh usai menjalankan amanah sebagai Plt Bupati Bener Meriah, Pak Darjo sejatinya menyimpan sebuah kekecewaan. Bukan karena beliau tidak konsens dengan masalah pendidikan, tapi karena kemudaian seperti ada ‘jarak’ antara beliau dengan para petani dan penyuluh pertanian yang selama ini sudah menjadia bagian tak terpisahkan dari kehidupannya. Namun Kekecewaan itu terasa terobati ketika Gubernur Aceh pada waktu itu kemudian ‘mengembalikan’ Pak Darjo pada ‘habitat’nya. Bulan April 2017 lalu, Pak Darjo resmi dipercayakan untuk memegang ‘kemudi’ pertanian di bumi Serambi Mekkah ini dengan jabatan baru sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sampai dengan saat ini.
Kembali mendapatkan ‘perahu’nya, Pak Darjo pun kembali merangkai keinginannya untuk bisa kembali bercengkerama dengan para petani dan penyuluh yang ada di Dataran Tinggi Gayo. Namun kerena berbagai kesibukannya, rencana itu baru bisa terlaksana pada awal tahun 2018 ini. Senyum ceria jelas terpancar diwajahnya, ketika beliau kembali menginjakkan kakinya di tanah Gayo, tepatnya di wilayah kecamatan Atu Lintang yang dikenal berudara sangat sejuk karena memang berada di punggung perbukitan.


Disambut hangat petani
Kehadiran Pak Darjo di wilayah eks pemukiman transmigrasi itu disambut langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, drh. Rahmandi, M Si, Camat Atu Lintang, Erwin Prtama, SSTP, Dan Ramil Atu Lintang, Kapolpos Atu Lintang, Ipda Hamdan Harahap dan Kepala BPP Atu Lintang, Armia Putra, SP dan ratusan petani anggota kelompok tani se kecamatan Atu Lintang. Dipilihnya wilayah kecamatan Atu Lintang sebagai tujuan utama kunjungan Pak Darjo ke Gayo karena wilayah ini memiliki potensi pengembangan komoditi pertanian khususnya Kopi dan Hortikultura yang luar biasa. Sudah sejak lama wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi kentang dan belakangan komoditi unggulan jeruk keprok Gayo juga mulai berkembang di daerah ini. Kopi arabika dari daerah ini juga dikenal memiliki kualitas dan aroma spesifik, karena ditanam pada ketinggian di atas 1.600 mdpl.
Seperti biasa, seolah menanggalkan ‘atribut’nya sebagai pejabat tingkat provinsi, Pak Darjo pun segera larut dalam kebersahajaannya bersama para petani dan penyuluh pertanian di wilayah kecamatan Atu lIntang ini. ‘Gaya kerakyatan’ seperti inilah yang kemudian seolah menjadi ‘trade mark’nya Pak Darjo yang akhirnya juga diikuti oleh pejabat di jajaran pemerintah kabupaten Aceh Tengah yang ikut mendampingi kunjungan beliau seperti Kepala Dinas Pertanian, Rahmandi dan Camat Atu Lintang, Erwin Pratama. Hanya para penyuluh pertanian yang tampil dengan ‘atribut’ yang tampil dengan ‘atribut’ lengkap, pakaian dinas lapangan, rompi dan ransel hijau mereka. Atribut penyuluh itu memang meiliki arti historis tersendiri bagi pak Darjo, karena semua pengadaan perlengkapan penyuluh lapangan ini memang hasil perjuangan beliau sewaktu menjabat sebagai Kepala BKP Luh Aceh beberapa tahun yang lalu.
Raut keceriaan jelas terpancar di wajah Pak Darjo saat Kepala BPP, Armia Putra mengajak beliau untuk menyaksikan panen kentang pada lahan milik kelompok tani binaan BPP Atu Lintang. Tak memperdulikan tangannya yang kemudian kotor belepotan tanah, beliaupun terlihat gembira ikut mengorek umbi kentang bersama para petani, dan senyum sumringahnya pun mengembang ketika menyaksikan langsung hasil penen kentang yang sangat menggembirakan. Beliau semakin yakin bahwa wilayah Atu Lintang memang sangat layak untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi kentang, karena permintaan konsumen akan produk hortikulrura ini dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan.
“Saya pesankan kepada rekan-rekan penyuluh yang ada di Atu Lintang ini untuk terus intens membina para petani kentang disini, karena saya sudah melihat sendiri, potensi pengembangan kentang di wilayah ini luar biasa, pemasaran produnya pun saya kira tidak ada masalah, karena permintaan konsumen akan produk ini cukup tinggi, ini bisa jadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani” ungkapnya.
Kepada Kepala Distanbun Aceh ini, Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, rahmandi menyampaikan bahwa berdasarkan peta komoditi yang sudah disusun oleh instansinya, wilayah Atu Lintang ini memang sudah sejak lama diprogramkan sebagai sentra produksi kentang, karena secara agroklimat dan sumberdaya petaninya sangat mendukung.
“Secara teknis, kawasan ini merupakan lokasi yang sangat tepat untuk pengembangan komoditi kentang, dan ini sudah kami programkan sejak lama, selain potensi lahnnya yang sangat potensial, sumberdaya petani yang ada di wilayah ini juga sangat mendukung, kedepan kami akan terus memproritaskan pengembangan kooditi kentang di wilayah ini, kami juga punya keinginan wilayah ini isa jadi sentra produksi kentang” ungkap Rahmandi.
Dukungan serupa juga datang dari Camat Atu Lintang, Erwin Pratama, alumni STPDN ini juga sangat mendukung pengembangan komoditi kentang di wilayahnya, bahkan melalui kepala kampung, dia sudah menyarankan agar setiap kampung/desa bisa mengalokasikan anggaran dana desa untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan komoditi kentang ini.
Usai memanen kentang dilahan petani, Pak Darjo melanjutkan peninjauan ke beberapa titik pengembangan komoditi Cabe. Selain komoditi kentang, wilayah ini juga potensial untuk pengembangan komoditi hortikultura lainya seperti cabe, wortel, kol, brokoli, dan terong belanda. Meski harga cabe di pasaran terbilang fluktuatif, namun Pak darjo tetap menghimbau petani untuk tidak berhenti membudidayakan cabe, karena komoditi ini termasuk komoditi pertanian strategis yang dibutuhkan masyarakat sepanjang tahun. Dengan menjag kontinuitas produksi, harga cabe akan relatif stabil, begitu ungkap pak Darjo di hadapan para petani.
Satu lagi komoditi pertanian tanaman pangan yang juga menjadi obyek kunjungan Kepala Dinas pertanian dan Perkebunan Aceh ini adalah pengembangan komoditi Ganyong. Kecamatan Atu Lintang memang menjadi satu-satunya wilayah kecamatan di kabupaten Aceh Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir intensmengembangkan komoditi pangan alternative ini. Bukan hanya sebatas budidayanya, bahkan produk pangan olehan pangan berbahan dasar umbi ganyong ini sudah menjadi salah satu andalan home industry para anggota kelompok tani wanita di daerah ini.
Seharian berada di tengah petani dan penyuluh di Atu Lintang, rasanya belum memusakan kerinduan pak Darjo, namun keterbatasan waktu dan padatnya jadwal kegiatan beliau, membuatnya tidak bisa berlama-lama bercengkerama dengan para insane pertanian di Dataran Tinggi Gayo ini. Namun meski hanya sekejap, kehadiran orang nomor satu di lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh ini telah memberikan spirit baru bagi para petani dan penyuluh di daerah ini.
Di bawah binaan Kepala BPP Atu Lintang, Armia Putra, perkembangan pertanian di wilayah ini memang menunjukkankemajuan yang sangat pesat. Dan apresiasi dari pak Darjo dengan kunjungannya kali ini, telah memompa semangat dan motivasi Armia dan jajaran para penyuluh pertanian di wilayah ini untuk terus meningkatkan pelayanan penyuluhan kepada petani.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32