Kementan Siapkan Komoditi Pertanian Pengganti Ganja

Kategori : Edukasi Senin, 05 Maret 2018

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq


Imej buruk’ yang selama ini sudah terlanjur melekat pada provinsi Aceh sebagai ‘lumbung ganja’, akhirnya ‘mengusik’ kepedulian Kementerian Pertanian untuk ikut membantu menghapukan imej buruk tersebut. Untuk menggantikan tanaman yang merupakan bahan baku narkoba ini, Untuk mewujudkan kepedulian tersebut, Kementerian Pertanian ‘menggandeng’ Badan Narkotika Nasional (BNN) meluncurkan program alternatif development.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan berbagai bentuk bantuan sarana dan prasarana untuk mempercepat terealisasinya program itu. Menurut Staf Ahli Menteri Pertanian, Mukti Sardjono, pihaknya telah mengalokasikan bantuan berupa penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda 2 sebanyak 25 unit, pompa air 10 unit, rice transplanter 5 unit, hand sprayer 50 unit, alat tanam jagung 30 unit dan cultivator 15 unit serta ribuan bibit kopi arabika, benih padi gogo, jagung hibrida, cabe merah dan bawang putih. Bantuan dari Kementerian Pertanian tersebut akan dialokasikan pada beberapa wilayah di Aceh yang selama ini ditengarai sebagai lokasi perladangan ganja (cannabis sativa. L) seperti kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Bireuen dan Aceh Besar.
Saat mendampingi BNN melakukan tanam perdana Program Alternative Development di Desa Agusen Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Senin (26/2/2018) lalu, Mukti mengungkapkan bahwa pihak Kementerian Pertanian sangat focus untuk membantu BNN dalam pencegahan dini peredaran narkoba, khususnya di Aceh melalui kegiatan pemberdayaan petani, agar petani tidak lagi tergiur untuk menanam ganja. Untuk wilayah kabupaten Gayo Lues, Kementan bersama BNN, memfokuskan kegiatan alternative ini melalui penanaman kopi arabika varietas Gayo-1 yang berasal dari kabupaten Aceh Tengah. Seperti diketahui, varietas kopi Gayo 1 memiliki beberapa keunggulan, diantaranya produktivitas tinggi, batang kokoh, serta lebih tahan terhadap penyakit karat daun dan jamur akar. Pemilihan komoditi kopi arabika sebagai tanaman pengganti ganja didasari pertimbangan bahwa kopi arabika sesuai ditanam di sebagian besar wilayah Gayo Lues serta memiliki prospek ekonomi sangat bagus, sehingga bisa menjadi alternative untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan tidak ‘tergoda’ lagi untuk menanam ganja yang sejatinya sangat beresiko.
Bukan hanya kopi arabika, lebih lanjut Mukti juga mengungkapkan, untuk Tahun Anggaran 2018 Kementerian Pertanian telah mengalokasikan beberapa kegiatan untuk mendukung program altenatif development ini di Kabupaten Gayo Lues dan beberapa daerah lainnya di Aceh. Khusus untuk Gayo Lues yang dianggap sebagai wilayah yang paling ‘rawan ganja’, Kementan sudah menyiapkan alokasi kegiatan pengembangan beberapa komoditi arletrnatif pengganti ganja yaitu ;
Pertama pengembangan tanaman pangan yakni jagung hibrida seluas 2.050 ha dan padi gogo seluas 310 ha.
Kedua, pengembangan tanaman perkebunan melalaui kegiatan intensifikasi kopi 200 ha dan peremajaan kopi 400 ha.
Ketiga, pengembangan tanaman hortikultura berupa pengembangan cabe merah 25 ha dan bawang putih 10 ha.
Dalam acara tanam perdana kopi arabika di Agusen tersebut, hadir Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru, Anggota DPR RI, DPRA, DPRK, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan mewakili Menteri Pertanian, wakil dari KLHK, Kementerian Koperasi, pejabat Kabupaten Gayo Lues serta melibatkan seluruh penyuluh pertanian yang bertugas di daerah tersebut.
Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru menyampaikan terima kasih kepada BNN dengan adanya Program Alternative Development yang di pusatkan di Desa Agusen Kabupaten Gayo Lues. Menurutnya, wilayah ini merupakan salah satu daerah penghasil ganja. Saat ini ada sekitar 900 orang masyarakat Gayo Lues yang ditangkap karena kasus narkotika, dan 1.800 orang yang menjadi buron.
“Kami mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk memberikan bantuan pengembangan kopi arabika dan tanaman prospektif lainnya yang secara agroklimat dapat dikembangkan,” kata Amru.
Sementara itu Budi Waseso atau yang akarab dipanggil Buwas itu menegaskan, Indonesia saat ini dalam status Darurat Narkoba. Korban Narkoba saat ini sudah kita jumpai hampir di semua lapisan masyarakat, dari orang dewasa sampai Balita.
Dampak penyalahgunaan narkoba telah merugikan bangsa dan generasi mudanya baik kerusakan fisik, psikis, sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan bangsa. “Untuk itu kita menyatakan perang terhadap narkoba, “ tegas Budi.
Pemerintah melalui BNN telah mendesain program Alternative Development (AD) yaitu sebuah program khusus untuk mengganti tanaman penghasil narkotika dengan tanaman pertanian. BNN juga melakukan berbagai pelatihan kepada lapisan masyarakat. Bahkan kini BNN sedang menyiapkan paying hokum dalam bentuk Instruksi Presiden (INPRES), sehingga program ini dapat terdukung semua pihak dapat terlaksana seperti yang diharapkan.
*) Staf Dinas pertanian Kabupaten Aceh Tengah, kontributor berita/artikel pertanian di media cetak dan online.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32