Bahas Kelanjutan Sekolah Lapang Iklim, BMKG Gelar FGD

Kategori : Iklim dan Cuaca Selasa, 24 April 2018

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *) dari Banda Aceh

 


Menghadapi era perubahan iklim global (global climate change) yang semakin sering terjadi belakangan ini, sangat diperlukan langkah-langkah antisipatif untuk mencegah dampak negatif dari anomali iklim dan cuaca tersebut. Dari kajian Food and Agricultural Organisation (FAO), sektor paling merasakan dampak dari perubahan iklim global ini adalah sector pertanian dan ketahanan pangan. Akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak lagi bisa diprediksi, telah terjadi penurunan produksi pertanian, kegagalan panen dan meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman yang berdampak pada penurunan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.
Sebagai bentuk antisipasi terhadap fenomena alam tersebut, perlu adanya pembelajaran intensif tentang iklim dan cuca kepada para petani, penyuluh pertanian dan pihak-pihak lain yang terkait dengan pertanian. Salah satu upaya pembelajaran tersebut adalah melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang selama ini telah berjalan dengan fasilitasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Untuk provinsi Aceh, kegiatan SLI initelah diselenggarakan sebanyak 12 (dua belas) angkatan sejak tahun 2011 silam sampai dengan tahun 2017 yang lalu dengan melibatkan 308 peserta dari berbagai kalangan pertanian seperti Kelompok Tani, Penyuluh Pertanian, Petugas Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Kejurun Blang dan kelembagaan petani lainnya.
Namun penyelenggaraan SLI ini kemudian hanya dapat dilaksanakan 1 – 2 kali setahun karena minimnya anggaran dari BMKG pusat yang bersumber dari APBN. Padahal melihat luasnya areal pertanian dan banyaknya stake holders yang terkait dengan pertanian di provinsi Aceh, volume penyelenggaraan SLI seperti itu tentu masih jauh dari mencukupi. Untuk itu perlu terobosan-terobosan baru agar penyelenggaraan SLI ini bisa lebih sering dilaksanakan dengan jangkauan peserta yang lebih banyak.


Gelar Forum Group Discussion
Untuk menghimpun masukan sekaligus mencari solusi untuk keberlangsungan kegiatan SLI ini, Stasiun Klimatologi Indrapuri sebagai pemegang otoritas BMKG bidang klimatologi di provinsi Aceh, selama dua hari (19 – 20 April 2018) kemarin menggelar Forum Group Discussion (FGD). Bertempat di Oasis Atjeh Hotel Banda Aceh, kegiatan FGD ini diikuti oleh 10 orang alumni Sekolah Lapang Iklim yang berasal dari berbagai elemen seperti BPTP, BPTPH, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Koordinator pengamat hama dan penyakit tanaman kabupaten, Dinas Pertanian kabupaten dan perwakilan petani dan kejurun blang.
Acara pembukaan FGD tersebut dihadiri oleh Deputi Klimatologi BMKG, Bapak Drs. Herizal, M.Si., Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Kepala BPTP Provinsi Aceh, Perwakilan Dekan Fakultas Pertanian Unsyiah, Kepala Sub Bidang Gas Rumah Kaca, Kepala BPTH Provinsi Aceh, dan Pejabat BMKG di Provinsi Aceh.
Dalam sambutannya ketika membuka acara FGD, Deputi Klimatologi BMKG Bapak Drs. Herizal, M.Si memaparkan bahwa adanya Sekolah Lapang Iklim bekerjasama antara BMKG dengan Penyuluh pertanian dan petani guna untuk meningkatkan pengetahuan dalam memahami dan mempelajari kondisi dan informasi iklim guna mendukung ketahanan pangan. Adanya dampak perubahan iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertanian dalam hal kekeringan ataupun banjir menjadi ancaman serius bagi petani dalam menentukan musim tanam dan hasil panen.
Menurut beliau, pertanian tidak terlepas dari penggunaan bibit, lahan, dan irigasi yang masih dapat dikendalikan, sedangkan iklim tidak dapat dikendalikan.
"Dengan adanya pelatihan SLI kepada penyuluh lapang pertanian dapat menjadi mediator yang sangat potensial untuk mentransfer pengetahuan iklim yang didapat nanti kepada para penyuluh kelompok petani lainnya sehingga semakin banyak petani yang mempunyai kesadaran terhadap adanya variabilitas atau iklim ekstrem, serta dapat melakukan berbagai upaya dalam antisipasi maupun adaptasi pada kegiatan usaha tani mereka" ungkap Herizal.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Aceh Besar, Wahyudin, SP. M.I.Kom. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ajang tahunan yang sudah berjalan selama delapan tahun dan telah menghasilkan alumni SLI sebanyak 308 orang. Tujuannya agar peserta mampu dan terampil dalam memahami informasi iklim dan dampaknya terhadap kegiatan pertanian, sehingga dapat melakukan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan Iklim.
Ketika memimpin acara FGD, Deputi Klimatologi BMKG, Herizal meminta masukan dari para peserta tentang manfaat dari pelaksanaan SLI yang telah diselenggarakan selama ini. Permintaan Herizal disahuti oleh semua peserta FGD yang mengungkapkan bahwa kegiatan SLI sangat bermanfaat dan harus dilanjutkan pada masa yang akan datang dengan jumlah peserta dan volume penyelenggaraan yang lebih banyak. Selain menyampaikan masukan kepada pihak BMKG, sebagian peserta FGD juga menyampaikan pengalamannya menyebar luaskan informasi iklim dan cuaca pasca mengikuti Sekolah Lapang Iklim. Seorang peserta FDG, Fathan Muhammad Taufiq, dalam kesempatan itu juga mengajak para alumni SLI untuk menjadi agen informasi iklim dan cuaca yang sangat dibutuhkan oleh petani baik melalui lisan maupun tulisan. Menanggapi himbauan peserta FGD tersebut, Herizal memberikan apresiasi atas dedikasi yang telah ditunjukkan oleh para alumni SLI, ini menunjukkan bahwa pelaksanaan SLI memang sangat bermanfaat untuk menunjang aktifitas pertanian. Dalam kesempatan tersebut, Fathan juga menyerahkan kenang-kenangan berupa buku “Inpirasi Dari Gayo” kepada Deputi Klimatologi BMKG itu.

Lebih lanjut Herizaal menyatakan bahwa pihak BMKG memiliki keterbatasan anggaran dalam penyelenggaraan SLI ini, itulah sebabnya, kegiatan SLI hanya dapat dilaksanakan 1 sampai 2 kali dalam setahun. Untuk itu dia berharap adanya dukungan dari stake holders terkait untuk keberlansungan SLI di masa yang akan datang.
“Saya mendapat informasi dari Kepala Stasiun Klimatologi Aceh Besar bahwa tahun ini Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sudah mengusulkan alokasi kegiatan SLI melalui APBA, ini sangat bagus, karena pemerintah provinsi memberikan respon yang baik terhadap program ini, mudah-mudahan pemerintah kabupaten/kota di seluruh Aceh juga bisa melakukan hal yang sama” ungkap Herizal. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melayangkan surat kepada Bupati dan Walikota di seluruh Aceh untuk meminta dukungan berupa sharing anggaran penyelenggaraan SLI, sementara pihak BMKG siap mem’follow up’ dengan bentuan teknis berupa penyediaan nara sumber, pemateri dan praktisi yang sudah berpengalaman dalam bidang klimatologi.
Dalam waktu bersamaan dan di tempat yang sama, Stasiun Klimatologi Aceh Besar juga menggelar Sekolah Lapang Iklim Tahap II yang diikuti oleh 25 peserta dari berbagai instansi dan elemen masayarakat. Selain melibatkan peserta yang berasal dari penyuluh pertanian dan pengamat hama dan penyakit tanaman, SLI kali ini juga diikuti oleh beberapa orang dari lembaga swadaya masyarakat pegiat lingkungan dan koperasi petani.
*) Pemerhati agroklimatologi, peserta FGD Sekolah Lapang Iklim BMKG 2018.

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32