Di Kecamatn Lut Tawar, Padi Inpari 28 Mampu Hasilkan 9 Ton/Hektar

Kategori : Tanaman Pangan Jumat, 27 April 2018

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)


Penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah BPP Lut Tawar, Aceh Tengah, Kasim Mahmud, benar-benar seorang penyuluh yang pantas dijadikan contoh dan panutan bagi petani binaannya. Penyuluh yang satu ini tidak hanya mampu memberikan penyuluhan secara teoritis, tapi juga langsung mempraktekkan apa yang disuluhkan kepada petani di wilayah binaannya. Lahan pertanian miliknya yang berlokasi di desa/kampung Pedemun, Kecamatan Lut Tawar ini seolah sudah menjadi lahan percobaan dan percontohan bagi para petani di seputaran kecamatan Lu Tawar.
Secara bergiliran lahan tersebut oleh Kasim dijadikan sebagai lahan percontohan budidaya berbagai komoditi, mulai dari padi sawah, palawija dan hortikultura. Di satu waktu lahan milik penyuluh ini menghijau dengan tanaman kol, tomat, mentimun dan bawang merah, di waktu lainnya, lahan ini menjelma menjadi lahan pertanaman jagung manis, kacang merah, kacang panjang dan buncis, dan di musim penghujan, lahan ini ‘disulap’ Kasim menjadi lahan pertanaman padi.
Seperti yang dilakukannya pada awal tahun 2018 ini, kebetulan pada perode ini, curah hujan di kabupaten Aceh Tengah masih cukup tinggi dan ketersediaan air sangat memadai untuk mengairi lahan pertaniannya. Maka seperti yang dilakukannya pada tahun-tahun sebelumnya, Kasim kembali menjadikan lahannya sebagai lahan sawah untuk menanam padi. Sebagaimana anjurannya kepada para petani binaannya, Kasimpun menggunakan benih unggul padi varietas Inpari 28 yang sudah terbukti sangat adaptatif di wilayah ini. Pola tanam yang dilakukannya pun sesuai anjuran Kementerian Pertanian yaitu pola jajar legowo (jarwo).
Kasim tidak melakukannya sendiri, dia juga mengajak kelompok tani Maju Bersama yang menjadi kelompok binaannya selama ini untuk melakukan tanam serentak. Dengan demikian dia dapat melakukan dua aktifitas sekaligus secara bersamaan, yaitu sambil merawat dan memelihara tanaman padinya, dia juga dapat melakukan pembinaan, bimbingan dan penyuluhan kepada kelompok tani yang punya lahan berdekatan dengan lahan miliknya. Petani yang tergabung dalam kelompok tani tersebut juga diuntungkan dengan kondisi seperti ini, selain mendapat bimbingan langsung dari sang penyuluh, mereka juga dapat melihat dan mencontoh apa yang dilakukan oleh Kasim di lahannya.


Capai hasil 9 ton per hektar.
Pengembangan padi unggul varietas Inpari 28, sejatinya bukan yang pertama dilaksanakan di wilayah kecamatan Lut Tawar, karena sejak tahun 2011 yang lalu, varietas padi yang punya daya adaptasi di dataran tinggi ini sudah mulai diperkenalkan oleh para penyuluh di BPP Lut Tawar kepada petani. Dan melihat prouktivitasnya yang cukup tinggi, petani di pinggiran Danau Laut Tawar inipun semakin antusias untuk mengembangkan varietas padi unggul ini dilahan sawah mereka.
Selama varietas ini dikembangkan di wilayah kecamatan Lut Tawar, produktivitas rata-ratanya mencapai 7,5 – 8 ton per hektar. Ukuran dataran tinggi, produktivitas seperti ini sudah tergolong tinggi, karena jika dibandingkan dengan varietas lokal yang rata-rata produktivitasnya hanya 4 – 4,2 ton per hektar, produktivitas padi varietas Inpari 28 ini nyaris dua kli lipatnya. Namun produktivitas sebesar itu tidak serta merta membuat para penyuluh merasa berpuas diri, mereka terus berupaya agar produktivitas padi di wilayah binaan mereka terus meningkat, karena peluang meningkatkan produktivitas masih terbauka dengan menerapkan teknologi budidaya yang lebih baik.
Dan apa yang dicontohkan oleh Kasim Mahmud adalah buktinya, ketika dilakukan panen Kamis (26/4/2018) kemarin, padi Inpari 28 yang ditanam di lahan miliknya dan juga di lahan milik petani binaannya mampu menghasilkan produksi rata-rata 9 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar. Ini tentu merupakan capaian yang menggembirakan, karena dala kondisi anomali cuaca dimana perubahan cuaca sulit di tebak, justru produktivitas padi unggul ini justru mengalami kenikan yang cukup signifikan. Tentunya ini tidak terjadi secara kebetulan, karena dalam musi tanam kali ini, Kasim betul-betul menerapkan teknologi anjuran dari Kemnetrian Pertanian dan instansi terkait di daerah ini.
Sebuah keuntungan bagi Kasim dan kelompok tani binaaanya, karena di lahan sawah ini hanya ditanami padi sekali dalam setahun, sehingga nyaris tidak ada gangguan serangan hama dan penyakit tanaman, karena siklusnya terputus dengan penerapan budidaya komoditi secara bergilir. Keberhasilan mereka sebenarnya sudah terlihat seminggu sebelum panen, padi yang masih terikat pada malainya itu terlihat bernas dan berisi dan jumlah anakan pada setiap rumpun juga cukup optimal.


Ketika melakukan penen bersama kru BPP Lut Tawar, Jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah dan Babinsa yang bertugas di wilayah kecamatan Lut Tawar, wajah Kasim dan para petani terlihat sumringah melaihat hasil panen yang cukup melimpah. Ketika dilakukan ubinan usai panen, ternyata produktivitas padi di lahan mereka cukup fantastis, mencapai 9 ton per hektar, sebuah hasil yang belum pernah dicapai sebelumnya baik di wilayah kecamatan Lut Tawar maupun wilayah lainnya di kabupaten Aceh Tengah.
“Alhamdulillah, hasil panen kali ini sangat menggembirakan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan, mudah-mudahan pada penanaman berikutnya, produktivitas ini dapat kita pertahankan bahkan bisa ditingkatkan lagi” ungkap Kasi Mahmud didampingi Kepala BPP Lut Tawar, Suyito, SP dan seluruh rekan-rekan penyuluh dari BPP Lut Tawar. Kasim juga merasa bersyukur, para petani yang tergabung dalam kelompok tani binaanya mau mengikuti anjuran dan mencontoh apa yang dilakukannya di lahan sawahnya, sehingga para petani binaannya juga bisa menikmati hasil panen yang sama.


Yang juga ikut terlihat gembira dalam panen tersebut adalah para Babinsa yang selama ini juga terlibat sinergi dengan penyuluh dalam membina petani untuk mensukseskan program peningkatan swa sembada pangan. Para prajurit TNI yang tetap mengenakan pakaian dinas loreng itu terlihat bersemangat ketika ikut membantu proses panen tersebut. (FMT)

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32