Cegah Penyebaran Rabies, Distan Aceh Tengah Lakukan Vaksinasi Rutin

Kategori : Peternakan dan Kesehatan Hewan Kamis, 03 Mei 2018

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Rabies atau sering disebut penyakit ‘anjing gila’ penyakit serius yang menyerang otak dan sistem saraf. Penyakit ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat. Penyakit rabies disebabkan oleh virus lyssaviruses, virus ini ditularkan ke manusia melalui hewan terutama anjing, kucing dan kera yang sebelumnya telah terjangkit penyakit ini. Seseorang dapat terjangkit rabies jika air liur dari hewan rabies tersebut masuk ke tubuhnya melalui gigitan, Bahkan melalui cakaran pun bisa jika hewan rabies tersebut sebelumnya telah menjilati kuku-kukunya. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang terjangkit rabies karena luka di tubuhnya terjilat oleh hewan yang terinfeksi.
Di Indonesia, 98 persen kasus rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan hanya 2 persen saja yang ditularkan melalui gigitan kucing dan kera. Gejala rabies pada hewan sudah ditemukan di wilayah Indonesia sejak tahun 1884, sedangkan kasus rabies pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di daerah Jawa Barat.


Gejala rabies pada manusia
Sesorang bisa terjangkit atau tertular penyakit rabies, jika terkena gigitan hewan yang sebelumnya sudah terkena penyakit ini, virus penyebab penyakit ini masuk melalui air liur hewan tersebut. Setelah masuk ke tubuh, lyssaviruses atau virus rabies akan mengalami masa inkubasi atau waktu yang diperlukan bagi virus tersebut untuk berkembang hingga menyebabkan gejala. Masa inkubasi virus rabies biasanya berlangsung selama dua minggu hingga tiga bulan. Lama atau tidaknya masa inkubasi tergantung kepada bagian tubuh mana yang digigit dan terinfeksi virus rabies. Makin dekat dengan otak, maka makin cepat pula gejala yang berkembang. Sebagai contoh, gigitan rabies pada kepala, leher, atau wajah, memiliki periode inkubasi yang lebih singkat daripada gigitan yang terjadi pada kaki atau lengan.
Jika terinfeksi virus rabies, umumnya seseorang masih memiliki kemungkinan untuk pulih jika pengobatan segera dilakukan pada masa inkubasi virus. Namun jika virus terlanjur melewati masa inkubasi dan kondisi sudah memasuki tahap gejala, maka rabies akan sulit untuk diobati. Ketika rabies mencapai tahap gejala, biasanya gejala yang dirasakan penderita terlihat ringan, namun dalam waktu singkat, gejala tersebut akan memperlihatkan keseriusannya.
Gejala awal rabies sering sulit untuk dikenali dan terkadang justru dianggap sebagai gejala dari penyakit yang tidak berbahaya, gejala awal rabies di antaranya :
 Demam
 Tubuh yang terasa sangat lelah
 Tubuh yang terasa dingin
 Sakit tenggorokan
 Gelisah
 Bingung
 Lekas marah
 Mual
 Muntah-muntah
 Sakit kepala
 Hilang nafsu makan
 Kesulitan untuk tidur atau insomnia
 Rasa sakit dan kesemutan pada area yang terinfeksi
Jika gejala awal tersebut tidak segera terdedteksi dan dilakukan pencegahan awal, maka selepas gejala awal, gejala rabies yang berikutnya akan terlihat makin parah, biasanya ini terjadi dalam kurun waktu 2-10 hari, selanjutnya penderita akan mengalami gejala-gejala seperti :
 Mengalami halusinasi seperti melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata.
 Menjadi hiperaktif.
 Berperilaku agresif (misalnya meronta-ronta dan mengamuk tanpa sebab yang jelas).
 Kerap terlihat gelisah dan sering mengamuk.
 Demam tinggi.
 Selalu meneteskan air liur (hipersalivasi).
 Ereksi yang berkelanjutan pada penderita rabies pria.
 Mengeluarkan keringat yang berlebihan (hiperhidrosis).
 Bulu-bulu di kulit yang terlihat berdiri.
 Mengalami delusi atau percaya pada sesuatu yang tidak nyata.
Penderita juga akan mengalami hidrofobia atau ketakutan terhadap air dan sebelum mencapai tahap ini, mereka biasanya akan merasakan sakit pada tenggorokan dan kesulitan untuk minum. Ketika mereka mencoba untuk menelan air, otot-otot tenggorokan akan mengalami kejang dan berlangsung hingga beberapa detik. Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan penderita rabies mengalami hidrofobia. Jangankan melihat air, mendengar orang menyebut kata “air” saja mereka akan terlihat sangat ketakutan.
Selain mengalami hidrofobia, sebagian besar penderita rabies juga mengalami fotofobia atau takut terhadap cahaya dan aerofobia atau takut terhadap angin. Beberapa hari setelah gejala ini berkembang, penderita biasanya akan mengalami koma yang bisa berlanjut dengan kematian.


Gejala rabies pada hewan, khususnya anjing
Sama seperti pada manusia, gejala rabies pada hewan pun akan melewati beberapa tahapan. Misalnya pada anjing, pada tahapan pertama, anjing biasanya akan terlihat tidak mau makan. Kemudian anjing akan terlihat jinak, meski terhadap orang-orang yang tidak dikenalinya.
Selanjutnya masuk tahap kedua yang disebut tahap ’anjing gila’. Tahapan ini biasanya hanya berlangsung 2-4 hari. Tahapan ini ditandai dengan perilaku anjing yang liar dan agresif. Perilaku agresif tersebut di antaranya seperti anjing yang terlihat tidak memiliki takut terhadap musuh-musuh alaminya, menyalak terus-menerus, dan berusaha menyerang apa saja yang mendekat, bahkan benda mati sekalipun.
Dan yang terakhir adalah tahap lumpuh. Pada fase ini anjing akan terlihat mengeluarkan busa dari mulutnya, nampak seperti sedang tersedak dan rahang bawah yang terlihat turun. Selanjutnya otot-otot rahang, mulut, serta kerongkongan hewan tersebut mengalami kelumpuhan dan akhirnya mati.
Anjing peliharaan yang dibiarkan keluar rumah tanpa pengawasan, lebih berisiko terkena rabies. Anjing yang bebas berkeliaran memiliki peluang lebih besar untuk terlibat interaksi dengan anjing-anjing liar, ketimbang anjing peliharaan yang diawasi pemiliknya.


Upaya pencegahan.
Mencegah penyebaran penyakit rabies dapat dilakukan 3 cara yaitu preventif, kuratif dan represif. Tindakan preventif atau pencegahan merupakan cara yang paling mudah dan aman untuk dilakukan, karena akan bisa mencegah hewan piaraan seperti anjing terhindar dari serangan rabies, upaya preventif ini biasanya dilakukan dengan cara memberikan vaksin atau vaksinasi secara berkala pada hewan piaraan, khususnya anjing. Tindakan kuratif atau pengobatan dilakukan jika sudah terjadi kasus atau gejala penyakit rabies menular pada manusia, tidakan kuratif ini dilakukan secara medis dan biayanya cukup mahal dan fasilitasnya hanya ada di kota-kota besar. Jika gejala serangan rabies sudah mulai terlihat mulai meluas, tindakan yang harus dilakukan adalah tindakan refresif yaitu dengan mengeliminasi hewan yang sudah terinfeksi rabie, tindakan ini dilakukan dengan cara membunuh hewan piaraan, khususnya anjing yang sudah terserang rabies dengan cara diracun dan kemudian dikuburkan di lokasi yang jauh dari pemukiman, tempat mengubur bangkai anjing itupun harus disterilkan dengan desinfektan untuk mencegah agar virus rabies yang ada pada tubuh anjing tersebut mati dan tidak menyebar.


Distan Aceh Tengah lakukan vaksinasi rutin
Kasus rabies pada manusia memang sangat jarang terjadi di Dataran Tinggi Gayo, kalaupun ada, dalam setahun mungkin hanya 1 – 2 kasus saja. Namun demikian ini tidak mengurangi kewaspadaan instansi terkait untuk melakukan tindakan pencegahan, baik secara preventif maupun represif, karena populasi anjing di daerah ini cukup tinggi, jadi upaya pencegahan dan antisipasi menyebarnya penyakit rabies harus dilakukan setiap saat.
Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan instansi yang saat ini bertanggung jawab untuk pencegahan rabies, terus melakukan upaya pencegahan menyebarnya penyakit berbahaya ini di seluruh wilayah dalam kabupaten ini. Upya yang rutin dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi pada hewan piaraan, khususnya anjing yang dipelihara oleh warga masyarakat.
Menurut Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Bahrawati, upaya vaksinasi ini sangat penting dilakukan secara berkala agar hewan-hewan yang berpotensi sebagai penular penyakit rabies terbebas dari serangan penyakit mematikan ini, karena di kabupaten Aceh Tengah ada ribuan ekor anjing yang dipelihara warga baik untuk keperluan berburu (mungaro) atau menjaga rumah dan kebun.


“Rabies merupakan penyakit berbahaya dan mematikan, untuk pengobatannya butuh biaya yang sangat mahal dan hanya bisa dilakukan di rumah sakit di kota-kota besar, oleh karenanya kami terus melakukan upaya pencegahan dini melalui vaksinasi di semua wilayah kabupaten Aceh Tengah, apalagi populasi anjing di Aceh Tengah termasuk tinggi” ungkap Bahrawati.
Dalam beberapa hari ini, menurut Bahra, pihaknya sudah menurunkan puluhan petugas peternakan dan kesehatan hewan untuk melakukan vaksinasi pada anjing piaraan masyarakat, kegiatan ini dilakukan secara rutin untuk menangkal berjangkitnya penyakit berbahaya ini. Menurutnya upaya pencegahan dan antisipasi awal jauh lebih efektif disbanding dengan melakukannya setelah terjadi gejala serangan. Lebih lanjut Bahra juga berharap peran aktif masyarakat untuk mendukung kegiatan ini dengan cara melakukan vaksinasi pada hewan piaraan mereka.
“Kami juga menghimbau kepada pemilik hewan piaraan khususnya anjing untuk ikut berperan aktif mendukung program pencegahan penyakit rabies ini, ketika petugas kami melakukan vaksinasi massal, kami sangat berharap kepada semua warga pemilik hewan piaraan untuk pro aktif membawa hewan piaraan mereka ke tempat vaksinasi” lanjut Bahra. Selain vaksinasi massal yang dilakukan secara rutin, menurut Bahra, para petugas melakukan vaksinasi dari rumah ke rumah jika diminta oleh pemilik hewan.
Untuk efektifitas hasil vaksinasi, Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan juga melibatkan para penyuluh pertanian baik untuk pendataan populasi anjing maupun dalam mengkoordinir pemilik hewan untuk mau memvaksinasi hewan piaraan mereka. Seperti yang dilakukan di wilayah kecamatan Silih Nara, Rabu (2/5/2019) kemarin, para petugas vaksinasi bersinergi dengan para penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Silih Nara. Berkat sinergi ini, ratusan ekor anjing di wilayah kecamatan Silih Nara berhasil divaksinasi. Keterlibatan para penyuluh ini sangat penting, akrena jumlah petugasvaksnasi kabupaten sangat terbatas dan harus dibagi ke beberapa lokasi dalam waktu bersamaan.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPP Silih Nara, Abdurrahman, SP atau yang akarap dipanggil Ceh Raman ini menyampaikan rasa terima kasih atas terlaksananya vaksiansi ini.
“Kami merasa bersyukur, hari ini telah dilakukan vaksinasi rabies di wilayah binaan kami, ini sangat penting untuk mencegas penyebaran penyakit rabies yang sangat berbahaya ini, mewakili masyarakat Silih Nara, kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Kabid Keswan dan tim vaksinasi kabupaten yang telah melakukan upaya pencegahan penyakit rabies secara dini di daerah kami” ungkap Ceh Raman.
Kepada warga masyarakat, Ceh Raman juga menghimbau agar warga yang memiliki hewan piaraan anjing secara sadar dan sukarela mau mengikuti kegiatan vaksinasi ini secara rutin, karena pihak Distan sudah memberi kemudahan dengan kegiatan vaksinasi rutin di setiap wilayah minimal dua kali dalam setahun dan vaksinasi ini gratis tidak dipungut biaya sedikitpun dari masyarakat.

*) Staf Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, kontributor berita dan artikel pertanian di media cetak dan online.

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32