Cetak Sawah Baru di Jagong Jeget Berhasil, Segera Masuki Masa Panen

Kategori : Tanaman Pangan Rabu, 23 Mei 2018

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq


Setelah hampir 4 tahun vakum, tahun 2017 ini, Kementerian Pertanian kembali mengalokasikan program percetakan sawah baru di kabupaten Aceh Tengah melalui satuan kerja Dinas Pertanian setempat. Harus diakui, bahwa tingkat keberhasilan program cetak sawah baru di kabupaten berhawa dingin ini sangat kecil disebabkan oleh beberapa faktor kendala, antara lain survey awal yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis, calon petani tidak tinggal di sekitar lokasi, belum adanya jaringan irigasi pendukung dan berbagai kendala non teknis yang akhirnya menyebabkan kegagalan program percetakan sawah baru ini. Bahkan beberapa tahun lalu, program ini sampai menjadi permasalahan hukum yang terkait dengan tindak pidana korupsi.
Belajar dari kesalahan pengelolaan program percetakan sawah baru pada masa-masa sebelumnya, pihak Dinas Pertanian cukup berhati-hati dalam perencanaan maupun pelaksanaan program tahun ini, terutama menyangkut persyaratan teknis lokasi dan petani atau kelompok tani peserta program. Areal yang akan dijadikan sebagai lahan sawah baru harus benar-benar memenuhi persyaratan teknis, sehingga program ini tidak akan mengalami kegagalan dengan alasan teknis. Begitu juga dengan petani peserta program percetakan sawah baru ini, harus benar-benar petani pemilik lahan yang berdomisili di sekitar lokasi, sehingga lahan sawah baru tersebut tidak terbengkalai. Sesuai dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemeterian Pertanian dengan Mabes TNI, maka mulai tahun 2017 ini, program percetakan sawah baru dikelola bersama oleh TNI AD bersama instansi pertanian setempat. Salah satu lokasi percetakan sawah baru yang kemudian direkomendasikan adalah di desa/kampung Telege Sari dan Gegarang, kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.
Berkat kecermatan dalam pengelolaan program tersebut, sinergi antara Kodim 0106/Aceh Tengah Bener Meriah dengan Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, menunjukkan hasil menggembirakan. Areal percetakan sawah baru yang berlokasi di desa/kampung Telege Sari dan Gegarang kecamatan Jagong Jeget, secara teknis telah menunjukkan tingkat keberhasilan sekitar 75 persen. Program cetak sawah baru yang dibiayai dengan dana APBN Tahun Anggaran 2017 itu kini sudah dapat dilihat hasilnya.
Salah satu faktor keberhasilan program cetak sawah di kecamatan Jagong Jeget ini adalah keseriusan petani dalam mendukung program ini, karena petani peserta program cetak sawah ini memang pemilik lahan tersebut. Selain itu, program percetakan sawah baru ini memang sudah menjadi harapan petani sejak lama, sehingga ketika program ini terwujud, petani setempat langsung menyambutnya dengan antusias.
Dari target awal seluas 60 hentar yang dikerjakan bersama oleh para prajurit TNI, penyuluh pertanian BPP Jagong Jeget dan para petani peserta program pada tahun 2017 yang lalu, sekitar 46 Hektar diantaranya kini sudah bisa ditanami padi sawah pada akhir tahun 2017 yang lalu, dan saat ini sudah menedekati masa panen. Meski baru pertama kali ditanami padi, namun berkat kegigihan petani dalam merawat dan memelihara tanaman mereka, hamparan sawah baru itu kini terlihat mengunaing dengan bulir-bulir padi yang bernas dan berisi. Sebagai upaya adaptasi, petani memang masih menggunakan benih padi lokal untuk meminimalisir kegagalan, namun demikian dari amatan di lapangan, padi lokal tersebut pertumbuhan dan produksinya sangat menggembirakan.
Menurut prediksi Paiman, SP, Kepala BPP Jagong Jeget, tanaman padi di lahan percetakan sawah baru di wilayah binaaanya ini akan mampu menghasilkan produksi tidak kurang dari 5,5 ton per hektar.
“Melihat kondisi fisik tanaman dan bulir-bulir padi pada lahan sawah baru ini, saya optimis, produktivitas padi di lahan cetak sawah baru ini tidak kurang dari 5,5 ton per hektar, ini merupakan capaian yang sangat bagus, karena rata-rata produktivitas padi lokal di kabupaten Aceh Tengah baru mencapai 4,2 ton per hektar” ungkap Paiman saat meninjau persiapan panen padi beberapa waktu yang lalu.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Mudiyono (61), ketua kelompok tani yang mempelopori percetakan sawah baru di sekitar danau Lut Kucak Gegarang ini. Dia sangat yakin bahwa lokasi cetak sawah ini merupakan pilihan yang tepat, karena tanahnya sangat subur dan ketersediaan air mencukupi.
“Jauh sebelum ada program cetak sawah ini, kami sudah membuka sawah secara swadaya bersama beberapa teman petani disini, dan hasilnya cukup bagus, sekarang dengan areal yang lebih luas, saya makin yakin bahwa kedepan lokasi cetak sawah ini akan mampu menjadi lumbung pangan khususnya di kecamatan Jagong Jeget, karena masih sangat memungkinkan untuk diperluas lagi” ungkapnya saat mendampingi kunjungan pembinaan penyuluh pertanian setempat.


Harapkan Pembangunan Jaringan Irigasi
Meski cukup gembira dengan capaian program cetak sawah ini, Mudiyono tetap berharap agar program ini ditindak lanjuti dengan pembangunan jaringan irigasi teknis, karena ketersediaan dan distribusi air yang merata adalah syarat mutlak keberhasilan budidaya padi sawah.
“Pengelolaan air yang baik adalah bagian terpenting dalam budidaya padi sawah, dan untuk bisa mengelola air dengan baik dibutuhkan jaringan irigasi yang baik pula, untuk itu kami sangat berharap nantinya program cetak sawah ini ditindaklanjuti dengan pembangunan jaringan irigasi teknis, karena sumber dan suplai air untuk lokasi sawah ini cukup tersedia, hanya butuh pengaturan jaringan supaya distribusinya merata” ungkap petani yang juga pensiunan guru SD ini.
Menanggapi permintaan petani tersebut, menurut Paiman, beberapa waktu yang lalu, pihak terkait sudah melakukan pengukuran calon lokasi pembangunan jaringan irigasi di sekitar lokasi sawah baru tersebut. Dia juga berharap, pembangunan jaringan irigasi ini dapat segera teralisasi, karena menjadi factor penentu keberhasilan program cetak sawah baru dimasa yang akan datang.
“Air itu kan nyawanya sawah, kalau ketersediaan air mencukupi, sawah akan hidup, tapi jika air terbatas, sawah juga akan sulit bertahan, dan pembangunan jaringan irigasi adalah solusinya, beberapa waktu yang lalu saya turut mendampingi pihak terkait melakukan pengukuran calon lokasi pembangunan irigasi ini, mudah-mudahan bisa segera terealisasi, kalau bisa yang pada tahun ini” pungkas Paiman.
Dari hasil pantauan kami di lapangan, pertengahan bulan Ramadhan atau akhir bulan Mei 2018 ini, setidaknya ada sekitar 30 hektar sawah yang siap memasuki masa panen. Tentu saja ini berkah yang luar biasa bagi para petani, karena memasuki idul fitri nanti mereka akan bisa menikmati beras baru yang dihasilkan dari sawah mereka

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32