"GELIAT PERTANIAN " DI KAWASAN TERPENCIL

Kategori : Government Sabtu, 02 Februari 2019

 

Pembangunan  Pertanian berkesinambungan yang diprogramkan oleh Pemerintah Daerah kabupaten Aceh Tengah tidak efektif pengucuran dana anggaran pada semua subsektor pertanian, tanpa memperhatikan faktor Need atau kebutuhan skala prioritasnya petani sebagai pelaku utama.

Fotensi alam yang tersimpan dibalik bukit dan lembah dataran tinggi Gayo akan lebih menarik dan terungkap jelas dengan melakukan “BELUSUKAN” turun ke lapangan bersama penyuluh dan penggerak pertanian lainnya, demikian dikatakan ZUANDA,SP Plt.Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah dalam sambutan pertemuan kelompok tani “ MUPAKAT” di kawasan terpencil kampung “Umang” kecamatan Linge akhir Januari 2019.


A. Kampung Umang Kecamatan Linge


          Balai Penyuluhan Pertanian Ketapang berhasil mendampingi petani bertanam cabe dengan teknologi ramah lingkungan. Semula pada lahan usaha tani mereka sangat ganas serangan hama pengerat batang cabe dalam masa petumbuhan vegetatif , Penyuluh wkpp terpencil AlWINSYAH melalui pengamatan rutinnya menemukan inovasi proteksi tanaman cabe dari serangan hama pengerat dengan memasang potongan –potongan bambu di setiap lobang tanam. Ternyata inovasi baru ini sangat efektif mengendalikan serangan hama pengerat pada tanaman cabe selain mudah didapat, ekonomis dan ramah lingkungan.
Menurut penjelasan pengurus Kelompok tani MUPAKAT para anggota sangat kecewa dengan harga jual tanaman cabenya sangat murah, sehingga setelah dilakukan analisis biaya hasilnya berada dibawah titik pulang pokok. Menyikapi kekecewaan petani ini 

        Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah dengan nada sedih mengatakan bahwa ini salah satu akibat dari membeludaknya luas tanam pada bulan Agustus-September yang lalu. Sebagai solusi mari kita mengatur fola tanam dan kalender tanam pada musim tanam berikutnya agar lebih beroreantasi pada kebutuhan pasar dan mempersiapkan sarana produksi lebih awal dari biasa.


       Salah seorang tokoh masyarakat kampung Umang kecamatan Linge mengutarakan keberadaan luas lahan sawah yang produktif sebagai lumbung persediaan bahan pangan di pelantaran kawasan Atu Belah ini mencapai 50 hektar. Sementara untuk mengelola lahan sawah ini mereka butuh pengadaan benih unggul yang bermutu dan alat mesin pertanian pengolah tanah agar mampu mendukung peningkatan produksivitas setiap musim tanam.

B. Kampung Linge Kecamatan Linge

 

 

Masih di kecamatan Linge Kampung Linge Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah telah mengalokasikan satu unit bangunan fisik “Long Storage” sebagai upaya menaikan permukaan sumber air untuk dialirkan melalui jaringan irigasi ke lahan sawah seluas 20 hektar yang berada pada posisi lebih tinggi dari sumber air.
Seluas 45 hektar lahan sawah lainnya juga tidak dapat terpenuhi kebutuhan airnya , sehingga harus dibangun satu unit “Embung” untuk sarana penampung bagi ketersdiaan air dimusim tanam. Kelompok tani “UTEN DATU” yang dibina oleh FATHUN penyuluh pertanian kawasan terpencil ini akan segera memanfaatkan lahan sawah secara maksimal.


ABDUSSALAM reje kampung Linge sudah berupaya memberdayakan masyarakatnya untuk bangkit mempersiapkan kebutuhan sayuran segar bersama penyuluh dengan menggerakan pemagaran kebun perkarangan rumah, menggerakan pemeliharaan ternak bebek dan menggerakan perekonomian dengan membagi bibit sere wangi. Namun semua daya upaya dari seorang reje ini masih butuh waktu peroses adopsinya.

Kita harus optimis keluarga tani bisa sejahtera apabila pemerintahan kampung selalu punya koordinasi dengan penyuluh pertanian dalam setiap kegiatan pengembangan pertanian. Semua sarana dan prasarana penunjang pertanian yang sudah menjadi aset kampung dipelihara bersama baik oleh kelompok tani maupun aparatur kampung cara penggunaan, penyimpanan dan sebagainya sehingga tumbuh rasa memiliki semua pihak demikian pesan kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah ZUANDA,SP )*

)* Abdurrahman,Sp

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32