POLA “PENDAMPINGAN” PEREMAJAAN KOPI

Kategori : Government Selasa, 13 Agustus 2019

(Dok.Penyuluh Jagong Jeget)

        Dalam kontek tekhnologi benih cadangan makanan yang tersimpan didalam endosperm sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkecambahan benih, oleh sebab itu benih harus benar-benar bersumber dari biji yang berkualitas. Agar petani tidak menuai penyesalan bertanam komoditas kopi yang masa panennya baru didapat stelah 2 tahun setelah tanam, maka disarankan untuk menggunakan varietas anjuran Gayo I atau Gayo II yang sudah disertifikasi oleh pihak yang berwenang.

        Diantara dua varietas yang dianjurkan juga masih mempunyai zona pengembangan yang berbeda ditinjau dari kesesuaian tekstur dan struktur tanah serta lingkungan. Terkadang dapat tumbuh subur dan tahan terhadap hama penyakit di suatu tempat akan tetapi lemah di produksivitas atau sebaliknya , oleh sebab itu petani sebagai pelaku utama lebih banyak tahu dan berpengalaman menentukan varietas yang paling cocok ditanam diantara dua varietas anjuran tersebut.

1. Tanaman Kopi Butuh Peremajaan
       Kopi Arabika baik varietas Gayo I maupun varietas Gayo II mempunyai masa produktif yang terbatas tergantung umur dan cara pemeliharaan oleh pelaku utama di lapangan. Awal masa produksi pada umumnya 2-3 tahun setelah tanam sedangkan masa produktif tergantung tekhnis pemangkasan yang dilakukan. Pada umumnya tanaman kopi yang tidak dirancang dan diawali pangkas bentuk lebih cepat rusak disebabkan cabang produktif tertimpa dibawah cabang kipas atau cabang lainnya yang tidak dikehendaki.
     Akibat kebanyakan cabang liar pada tanaman kopi tehnik pemangkasan yang tepat hanyalah “Pangkas Berat” yaitu memotong cabang-cabang yang menutupi pangkal cabang produksi. Dan tehnik Pangkas Berat berdanpak terhadap pendapatan petani 6-12 bulan tanaman tidak dapat berproduksi. Secara ekonomis tanaman kopi layak dipangkas berat hanya 1-2 kali saja, setelah itu lebih efesien dilakukan penggantian tanaman baru sebagai peremajaan kebun.

(Dok.Penyuluh Bebesen)

2. Penyediaan Bibit
       Sebahagian besar petani di kabupaten Aceh Tengah sudah dapat mempersiapkan bibit tanaman kopi dari benih turunan yang sudah beradaptasi dengan keadaan kebun mereka. Biji dipilih dari pohon induk yang sehat dan berproduksi tinggi untuk ditangkar sebagai persiapan penyulaman atau peremajaan kebun perorangan. Untuk kelompok tani sehamparan yang kondisi tanaman kopinya sudah layak dibongkar terkadang mendapat suntikan bantuan dari Dinas terkait dalam program Peremajaan Tanaman. Kegiatan ini juga tidak terlepas dari hasil identifikasi yang dilakukan penyuluh pertanian sebagai pendamping petani di desa.

3. Perawatan Bibit
       Bibit yang disalurkan kepada kelompok tani di setiap penjuru desa oleh pihak penyalur harus ditangani secara intensif setelah sampai di tempat. Selama dalam pengangkutan bibit mengalami sedikit setres , tanah dalam polybag berkurang, akar mengalami gesekan , daun ada yang gugur oleh sebab itu butuh penangan serius dari kelompok tani penerima. Melihat dari kondisi bibit terutama yang dibawa dari jarak jauh penyuluh pertanian memandu kelompok tani untuk melakukan upaya perawatan seperti :
a. Menyusun bibit pada tempat aman tidak berhimpitan
b. Membuat Pelindung dari trik mata hari
c. Mengisi penyusutan tanah polybag bibit
d. Menyiram pagi atau sore selama bibit belum ditanam

  

(Dokumen Kelompok Tani)

4. Musim Tanam
        Mengurangi resiko keterlambatan pertumbuhan tanaman ternyata lebih mudah dari pada resiko gagal tanam akibat tidak dipersiapkan lubang tanam oleh petani pelaku utama. Ini menyangkut sikap dan kebiasaan yang buruk juga menjadi bagian dari tugas seorang penyuluh di wilayah kerjanya. Sementara menunggu awal musim hujan September – Desember lubang tanam sudah harus dipersiapkan oleh petani. Penanaman bibit lebih dari umur yang dianjurkan akan berakibat buruk pada bibit, terutama akar tunggang menembus polybag dan akar serabut berputar dalam linkaran polybag.
        Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Aceh Tengah Ir.SULWAN AMRI optimis para penyuluh di lapangan mampu merubah kebiasaan petani yang pada mulanya masih ada yang  membiarkan bibit dalam polybag tidak dirawat dan terbengkalai  di belakang rumah mereka.  Kini  mereka  sudah mulai tumbuh kemauan  menangkar  bibit sendiri yang dipilih dari sumber benih Gayo I dan Gayo II untuk persiapan penyulaman atau peremajaan tanaman secara bertahap. Dan inilah salah satu  tolok ukur  berjalannya  penyuluhan  di lapangan  disamping  perubahan pola sikap, keterampilan dan pengetahuan  keluarga tani. ) *
)*Abdurrahman,Sp

 

 

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32